ANGIN
Karya : Gratia Immanuela Corputty
Karya : Gratia Immanuela Corputty
Naungan
angin yang mencerminkan kalbu, indahnya pelangi mewarnai pagiku, teriakku
bagaikan burung camar, menyambutnya keselimutan matahari. Bayangan ku terantuk
seperti batu, tanda mimpiku telah terbangun dari asalnya, udara pagi yang
membuat mataku terbuka, menerima sedikit demi sedikit cahaya yang masuk ke sela
kelopak mataku, seolah berkata bangun. Jam pun mulai berdering, tanda kedua
mata untuk membangunkanku, seketika hatiku terkejut karena mendengarnya, tak
dapat lagi ku hiraukan, memang pagi memaksaku untuk bangun, dan mulai beranjak
dari tidur malamku yang cukup lelah. Ku berjalan menuju hangatnya udara pagi,
yang membawaku pada keramaian kicauan burung, kurentangkan tanganku
lebar-lebar, menikmati setiap hangatnya udara itu, masuk melalu sentuhan
tanganku. Aku melihat matahari terbit dari sebelah timur, mengucap selamat
pagi.
Aku berbalik
badan, menghadapkan punggungku pada serangkai kayu yang membatasi pinggulku,
kunikmati setiap helaian rambutku yang berterbangan karena angin yang
menghembuskan udaranya, dan matahari yang mengkilaukan cahayanya. Kurasakan
kenikmatan akan pagi indahku, ku berjalan keluar kamarku, kulangkahkan kaki
kaki kecil ini untuk turun kebawah, dan memulai hariku dengan hidangan pagi
yang sangat lezat.
Keesokan
paginya, aku kembali menyambut sang mentari yang cerah dan indah, rasa syukurku
ku lontarkan lewat senyuman ku pada langit. Senyumku pagi ini di awali dengan
hari pertamaku di sekolah menengah atas, ku persiapkan diriku untuk bergegas ke
sekolah. Sesampainya aku disekolah, aku mulai memperkenalkan diriku di mos
pertamaku, semua senior menatapku dengan tatapan tajam, entah apakah itu
tatapan yang baik atau mungkin sebaliknya, setalah kelas mulai di bagikan, aku
segera bergegas menuju kelas. Aku mulai berkenalan dengan teman-teman sekalas
ku, mereka bisa di bilang cukup baik dan ramah, kami menjalin hubungan dengan
sangat baik.
Lima bulan
ku lewati masa SMA ku. Aku mulai melihat banyak teman-temanku memiliki
pasangann hidup ya, bisa dibilang kalau itu adalah pacar mereka. Mulai
bergejolak di hatiku, menginginkan hal yang sama seperti teman-teman ku yang
lain. Akan tetapi, pemikiran dewasa ku berkata hal yang berbeda. Sampai pada
akhirnya, aku bertemu dengan seorang laki-laki yang cukup tampan dan sebaya
denganku, aku bertemu dengan nya di suatu media sosial, kami saling
bercengkrama satu sama lain, sampai akhirnya kami berdua merasa sangat nyaman,
tidak aku sangka bahwa perasaan ini akan semakin jauh untuk di nikmati. Sampai
pada titik tertentu, aku mulai mempertanyakan apa status hubungan kami, hingga
pada akhirnya dia tidak mampu menjawab, dan pergi begitu saja meninggalkanku.
Rasa sakit
yang teramat dalam kurasakan pada masa itu, rasa pahit yang begitu pahit,
tangisan air mata mulai bercucuran, sederet lagu mengiringi kesedihanku, pipiku
mulai di banjiri dengan air mata pilu, yang menusuk jantungku. Bagaikan cinta
pertama yang hilang dirampaskan angin, seperti angin malam yang dingin dan
begitu menusuk, pergi bagaikan hembusan angin, dan derasnya ombak, tidak
sejentikpun meninggalkan jejak.
Kepergiannya
adalah salah satu kepahitan mendalam buat hatiku pada saat itu, walaupun aku
tahu, kami memang belum pernah bertemu. Tapi bagiku, cinta pertama adalah yang
tak akan terlupakan buat ku. Satu tahun setelahnya, setalah kepahitan, dan rasa
sakit itu berlalu, ku mencoba untuk mencari yang lain, tidak ada niatan maksud
dan hati ku untuk mencari sebagai pelarian, tapi memang aku ingin mencari yang
lebih baik dari yang sebelumnya.
Aku mencoba
untuk mencari perlahan-lahan. Satu demi satu. Didalam masa pencarianku, ku
temukan banyak, bahkan beragam laki-laki yang menurutku belum pantas untuk
bertahan dalam dunia percintaanku, ada yang berusaha untuk menjatuhkan ku, ada
yang benar-benar serius sehingga ingin menikahiku, ada yang bermain di
belakangku, ada yang berlebihan, dan masih banyak lagi. Aku merasa, memang
Tuhan belum mau memberikan seorang laki-laki saat ini kepadaku. Dalam benaku,
aku hanya merasa bahwa memang saatnya untuk aku berhenti mencari laki-laki yang
pantas buat hidupku.
Tapi,
kedaginganku menolak, aku malah tidak mendengarkan dan tidak belajar dengan
yang sudah-sudah. Sampai pada akhirnya aku menemukan yang terbaik menurutku
pada saat itu, dia baik, pintar, memiliki sosial yang sangat baik, sampai
kedagingan hatiku terlena akan buaian manisnya yang begitu mendoga. Otaku seperti
tercuci olehnya, setiap untaian kata yang dia sampaikan begitu memikatku,
walaupu ku tahu, kejelakan apa yang dimilikinya.
Memang dia
adalah pria yang cukup hyper, atau mungkin bisa dikatakan memiliki otak
pencandu akan hal-hal dewasa, yang memang belum saatnya di bayangkan pada saat
usianya. Tapi aku, aku malah menerima keadaannya, karena aku berfikir bahwa aku
mampu memberikan perubahan bagi dia, tapi ternyata dugaan ku salah.
Awal aku
bertemu dengannya, merupakan suatu pertemuan yang sangat hebat, kami bercanda
gurau, kami saling bertukar pikiran, pada awalnya aku yakin bahwa aku bisa
merubahnya menjadi lebih baik. Akhirnya, kami berdua melakukan kembali
pertemuan selanjutnya, hatiku mulai berdetak di sentuh tangan ku olehnya,
nadiku mulai berdenyut kencang, keringat di jemari tangan dan kakiku mulai
mengalir, kurasakan hawa yang kurang mengenakan pada saat itu.
Hal gila
terjadi pada detik itu, di kecupnya kedua bibirku, di remasnya kedua bahuku,
aku berusaha menolak tapi detikan waktu tak mengijinkannya, ku coba untuk
melepas kecupan itu dari bibirku, tapi tak mampu, sampai ku coba untuk
menundukan kepalaku. Aku mulai berkata apakah ini suatu permulaan yang salah
atau yang betul? Aku mulai menangis dalam hatiku, aku mulai bertanya-tanya,
sampai ku cerminkan senyum di wajahku, tanda bahwa aku menerima kesalahan
pertama ku di hadapannya. Ketika itu semua selesai terjadi, dia pun berbalik,
tanda bahwa dia harus pulang.
Satu minggu
kedepan, bertepat di hari kamis tanggal dua januari dua ribu empat belas, kami
memulai pertemuan kami kembali. Aku pikir pada saat itu, aku akan bisa
memalingkan kedagingan nafsu dia, tapi di waktu yang salah, kami berdua malah
mengulang kesalahan yang sama, kami saling bersentuhan bibir, nafsu kami berdua
mulai meningkat, hembusan angin mulai membuat jemari tangin ku terlena, tapi
seketika detik mataku terbuka, merenung kepada hati yang berbicara bahwa ini
adalah suatu kesalahan yang terbesar, sampai pada klimaks tertinggi kami, dia
mendorongku sampai kepalaku terantuk pada tembok besar berwarna putih, ku
merintih dalam batin menahan sakitku, hampir di remasnya kedua kakiku. Aku
bangkit menghindar dari kesalahan terbesar itu,bangun dan tersenyum.
Aku takut,
jika penolakan, kemarahan, pemberontakan terjadi pada saat itu, genjatan itu
akan bertambah panjang, jadi ku biarkan dia tersenyum senang, walaupun hati ku
hancur bagaikan serpihan kaca yang retak dan pecah, hancur seketika tanpa harus
memikirkan cara untuk memperbaikinya, ku biarkan dia tersenyum atas
kehancuranku.
Setelah dia
kembali pulang, aku mulai merintih kesakitan, ku masuk kedalam kamarku,
merintih akan tangisanku, tangisan yang membanjiri kedua pipiku, kehnacuran
hati yang begitu menyakitkan menyelimuti malamku, desauan angin malam membuat
air mata ku tampak seperti terhapus akan derasnya tetesan air mata itu. Tak
dapat kubuka kedua mataku, meratapi kejadian yang telah terjadi dalam
kehidupanku, membiarkan orang lain yang baru ku kenal hanya dalam beberapa
bulan, hampir merenggut kekudusankku.
Aku mencoba
untuk membuka hatiku kembali, aku menangis, bertekuk lutut kepada Tuhan dan
berkata “ Tuhan!! Ampuni aku yang sudah mebiarkan hal bodoh ini terjadi pada
anak-Mu, ampuni aku karena tidak bisa menjaga tubuh ini ya Tuhan....” Aku
menangis dalam lubuk hatiku yang paling dalam, teriakan penyesalan terlontar
pada mulutku, kuremaskan bajuku, tengkurap tanda kehancuranku, ku tekukan kedua
lututku, menangis tiada henti, rasa tertindas akan kesesalan mulai muncul satu
demi satu alasan yang mebuatku semakin lemah, seperti mulai tidak ada kata
bangkit pada benakku. Sampai tangisan air mataku menghantarku pada tidur
malamku.
Keesokan
harinya, aku mencoba untuk membuka mataku yang sembab, bekas air mata masih
menempel di kedua pipiku. Aku mencoba untuk bangun dari tempat tidurku, tapi
jiwaku tak mampu membangkitkannya. Aku biarkan semua tubuhku menikmati udara
pagi baru. Seketika setelah itu, berhembuslah angin mengusap air mata dan
beberapa helaian rambut dari pipiku, angin yang menghantarkanku pada indahnya
pagi, sejuk nya udara pagi, kehangatan sang mentari menjemputku pada akhir
keterpurukanku sebagai seorang wanita terhormat.
Aku mencoba
menerima segala keadaanku, ku mencoba membangun kembali senyuman, dan
membawanya kembali kepada sang langit. Terucap pada bibirku dengan rerintihan
air mata “Tuhan , aku bersyukur, Engkau memberikan ku laki-laki yang pernah
melakukan hal tidak baik kepadaku, sekarang aku tahu apa rasanya, aku memang
menyesal Tuhan dengan hal itu, aku mengaku salah dan berdosa terhadap kejadian
itu. Tapi aku yakin Tuhan, aku bisa berubah dan tidak akan kembali pada
kebodohan masa lalu, Terimakasih Tuhan, jika Engkau masih, dan mau memberikan
kepadaku kesempatan kedua untuk hidup baruku ini”.
Angin..
membawa ucapanku terbang ke awan, layaknya menghantarkan pesanku kepada Tuhan.
Ku pijakkan kakiku berbalik ke arah belakang, memberikan punggungku kepada
kilauan mentari, mebiarkan wajahku menghadap kebayang pagiku. Ku senderkan
pinggulku ke deretan pagar kayu, dan membiarkan sinar matahari memasuki ruas
ruas tulang-tulangku. Aku menganggap pagi ini, adalah awal dari hari baharuku,
layaknya anak sekolah yang siap untuk kembali mengawali harinya.
Selimut
putih tebal, masih menempel pada tubuhku, sedikit tangisan masih membasahi
wajahku. Perlahan terdengar suara ketukan pintu dari arah kamarku. Aku berjalan
merintih akan tangisanku, aku mulai perlahan membukanya, dan seketika aku
melihat wajah kedua sahabatku berdiri di depan pintu, mencerminkan wajah sedih
dan bertanya-tanya, akan aku yang belakangan ini sangat pemurung. Dan pada
akhirnya ku ceritakan semua masalah ku kepada sahabatku, tetesan air mata itu
mulai mengalir di kedua pipiku, membanjiri seluruh kedua mataku, satu per satu
sahabatku mulai menangis, memeluku erat, rasa iba, marah, tak tega, kesal,
sedih, mencampuri suasana pagi itu.
Pelukan erat
yang diberikan kedua sahabatku, membuatku merintih menangis, penyesalan itu
kembali merasuki kembali pikiranku, dan hatiku. Rasa yang begitu lelah, hingga
aku sudah tidak dapat bangkit kembali, jemari mereka satu per satu menghapus
air mata di pipiku. Hatiku terketuk oleh rasa perhatian mereka, rasa ingin bangkit
dari masalah itu muncul kembali, terimakasih Tuhan Engkau memberikan sahabat yang
sangat dan begitu baik buat hidupku.
Kami bertiga
pun bangkit dari tempat tidur, mereka membawa diriku kearah luar kamarku, atau
biasa kami menyebutnya balkon, angin menyambut kedatangan kami bertiga, angin
menghapus air mata kami bertiga. Sahabatku.. berhasil membawa senyuman itu
kepadaku, terbiaskan senyuman itu mengukir keindahan kembali pada wajahku.
Pelukan hangat dari sang mentari membawa aku pada titik terakhir. Dimana aku
dan kedua sahabtku mulai tersnyum satu sama lain, pelan-pelan melupakan masalah
ini, mengangkat wajah kami kepada langit, dan mulai tertawa. Angin membawa
hembusan yang sangat kencang, menderai ketiga rambut kami, dan semua hal
berakhir dengan segala keinndahan yang diberikan langit kepada kami bertiga.
Bawalah aku pada akhir kebahagiaan.....
sencerly...
Angin .
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar