Selasa, 08 September 2015

my short story ...


ANGIN
Karya : Gratia Immanuela Corputty
Naungan angin yang mencerminkan kalbu, indahnya pelangi mewarnai pagiku, teriakku bagaikan burung camar, menyambutnya keselimutan matahari. Bayangan ku terantuk seperti batu, tanda mimpiku telah terbangun dari asalnya, udara pagi yang membuat mataku terbuka, menerima sedikit demi sedikit cahaya yang masuk ke sela kelopak mataku, seolah berkata bangun. Jam pun mulai berdering, tanda kedua mata untuk membangunkanku, seketika hatiku terkejut karena mendengarnya, tak dapat lagi ku hiraukan, memang pagi memaksaku untuk bangun, dan mulai beranjak dari tidur malamku yang cukup lelah. Ku berjalan menuju hangatnya udara pagi, yang membawaku pada keramaian kicauan burung, kurentangkan tanganku lebar-lebar, menikmati setiap hangatnya udara itu, masuk melalu sentuhan tanganku. Aku melihat matahari terbit dari sebelah timur, mengucap selamat pagi.
Aku berbalik badan, menghadapkan punggungku pada serangkai kayu yang membatasi pinggulku, kunikmati setiap helaian rambutku yang berterbangan karena angin yang menghembuskan udaranya, dan matahari yang mengkilaukan cahayanya. Kurasakan kenikmatan akan pagi indahku, ku berjalan keluar kamarku, kulangkahkan kaki kaki kecil ini untuk turun kebawah, dan memulai hariku dengan hidangan pagi yang sangat lezat.
Keesokan paginya, aku kembali menyambut sang mentari yang cerah dan indah, rasa syukurku ku lontarkan lewat senyuman ku pada langit. Senyumku pagi ini di awali dengan hari pertamaku di sekolah menengah atas, ku persiapkan diriku untuk bergegas ke sekolah. Sesampainya aku disekolah, aku mulai memperkenalkan diriku di mos pertamaku, semua senior menatapku dengan tatapan tajam, entah apakah itu tatapan yang baik atau mungkin sebaliknya, setalah kelas mulai di bagikan, aku segera bergegas menuju kelas. Aku mulai berkenalan dengan teman-teman sekalas ku, mereka bisa di bilang cukup baik dan ramah, kami menjalin hubungan dengan sangat baik.
Lima bulan ku lewati masa SMA ku. Aku mulai melihat banyak teman-temanku memiliki pasangann hidup ya, bisa dibilang kalau itu adalah pacar mereka. Mulai bergejolak di hatiku, menginginkan hal yang sama seperti teman-teman ku yang lain. Akan tetapi, pemikiran dewasa ku berkata hal yang berbeda. Sampai pada akhirnya, aku bertemu dengan seorang laki-laki yang cukup tampan dan sebaya denganku, aku bertemu dengan nya di suatu media sosial, kami saling bercengkrama satu sama lain, sampai akhirnya kami berdua merasa sangat nyaman, tidak aku sangka bahwa perasaan ini akan semakin jauh untuk di nikmati. Sampai pada titik tertentu, aku mulai mempertanyakan apa status hubungan kami, hingga pada akhirnya dia tidak mampu menjawab, dan pergi begitu saja meninggalkanku.
Rasa sakit yang teramat dalam kurasakan pada masa itu, rasa pahit yang begitu pahit, tangisan air mata mulai bercucuran, sederet lagu mengiringi kesedihanku, pipiku mulai di banjiri dengan air mata pilu, yang menusuk jantungku. Bagaikan cinta pertama yang hilang dirampaskan angin, seperti angin malam yang dingin dan begitu menusuk, pergi bagaikan hembusan angin, dan derasnya ombak, tidak sejentikpun  meninggalkan jejak.
Kepergiannya adalah salah satu kepahitan mendalam buat hatiku pada saat itu, walaupun aku tahu, kami memang belum pernah bertemu. Tapi bagiku, cinta pertama adalah yang tak akan terlupakan buat ku. Satu tahun setelahnya, setalah kepahitan, dan rasa sakit itu berlalu, ku mencoba untuk mencari yang lain, tidak ada niatan maksud dan hati ku untuk mencari sebagai pelarian, tapi memang aku ingin mencari yang lebih baik dari yang sebelumnya.
Aku mencoba untuk mencari perlahan-lahan. Satu demi satu. Didalam masa pencarianku, ku temukan banyak, bahkan beragam laki-laki yang menurutku belum pantas untuk bertahan dalam dunia percintaanku, ada yang berusaha untuk menjatuhkan ku, ada yang benar-benar serius sehingga ingin menikahiku, ada yang bermain di belakangku, ada yang berlebihan, dan masih banyak lagi. Aku merasa, memang Tuhan belum mau memberikan seorang laki-laki saat ini kepadaku. Dalam benaku, aku hanya merasa bahwa memang saatnya untuk aku berhenti mencari laki-laki yang pantas buat hidupku.
Tapi, kedaginganku menolak, aku malah tidak mendengarkan dan tidak belajar dengan yang sudah-sudah. Sampai pada akhirnya aku menemukan yang terbaik menurutku pada saat itu, dia baik, pintar, memiliki sosial yang sangat baik, sampai kedagingan hatiku terlena akan buaian manisnya yang begitu mendoga. Otaku seperti tercuci olehnya, setiap untaian kata yang dia sampaikan begitu memikatku, walaupu ku tahu, kejelakan apa yang dimilikinya.
Memang dia adalah pria yang cukup hyper, atau mungkin bisa dikatakan memiliki otak pencandu akan hal-hal dewasa, yang memang belum saatnya di bayangkan pada saat usianya. Tapi aku, aku malah menerima keadaannya, karena aku berfikir bahwa aku mampu memberikan perubahan bagi dia, tapi ternyata dugaan ku salah.
Awal aku bertemu dengannya, merupakan suatu pertemuan yang sangat hebat, kami bercanda gurau, kami saling bertukar pikiran, pada awalnya aku yakin bahwa aku bisa merubahnya menjadi lebih baik. Akhirnya, kami berdua melakukan kembali pertemuan selanjutnya, hatiku mulai berdetak di sentuh tangan ku olehnya, nadiku mulai berdenyut kencang, keringat di jemari tangan dan kakiku mulai mengalir, kurasakan hawa yang kurang mengenakan pada saat itu.
Hal gila terjadi pada detik itu, di kecupnya kedua bibirku, di remasnya kedua bahuku, aku berusaha menolak tapi detikan waktu tak mengijinkannya, ku coba untuk melepas kecupan itu dari bibirku, tapi tak mampu, sampai ku coba untuk menundukan kepalaku. Aku mulai berkata apakah ini suatu permulaan yang salah atau yang betul? Aku mulai menangis dalam hatiku, aku mulai bertanya-tanya, sampai ku cerminkan senyum di wajahku, tanda bahwa aku menerima kesalahan pertama ku di hadapannya. Ketika itu semua selesai terjadi, dia pun berbalik, tanda bahwa dia harus pulang.
Satu minggu kedepan, bertepat di hari kamis tanggal dua januari dua ribu empat belas, kami memulai pertemuan kami kembali. Aku pikir pada saat itu, aku akan bisa memalingkan kedagingan nafsu dia, tapi di waktu yang salah, kami berdua malah mengulang kesalahan yang sama, kami saling bersentuhan bibir, nafsu kami berdua mulai meningkat, hembusan angin mulai membuat jemari tangin ku terlena, tapi seketika detik mataku terbuka, merenung kepada hati yang berbicara bahwa ini adalah suatu kesalahan yang terbesar, sampai pada klimaks tertinggi kami, dia mendorongku sampai kepalaku terantuk pada tembok besar berwarna putih, ku merintih dalam batin menahan sakitku, hampir di remasnya kedua kakiku. Aku bangkit menghindar dari kesalahan terbesar itu,bangun dan tersenyum.
Aku takut, jika penolakan, kemarahan, pemberontakan terjadi pada saat itu, genjatan itu akan bertambah panjang, jadi ku biarkan dia tersenyum senang, walaupun hati ku hancur bagaikan serpihan kaca yang retak dan pecah, hancur seketika tanpa harus memikirkan cara untuk memperbaikinya, ku biarkan dia tersenyum atas kehancuranku.
Setelah dia kembali pulang, aku mulai merintih kesakitan, ku masuk kedalam kamarku, merintih akan tangisanku, tangisan yang membanjiri kedua pipiku, kehnacuran hati yang begitu menyakitkan menyelimuti malamku, desauan angin malam membuat air mata ku tampak seperti terhapus akan derasnya tetesan air mata itu. Tak dapat kubuka kedua mataku, meratapi kejadian yang telah terjadi dalam kehidupanku, membiarkan orang lain yang baru ku kenal hanya dalam beberapa bulan, hampir merenggut kekudusankku.
Aku mencoba untuk membuka hatiku kembali, aku menangis, bertekuk lutut kepada Tuhan dan berkata “ Tuhan!! Ampuni aku yang sudah mebiarkan hal bodoh ini terjadi pada anak-Mu, ampuni aku karena tidak bisa menjaga tubuh ini ya Tuhan....” Aku menangis dalam lubuk hatiku yang paling dalam, teriakan penyesalan terlontar pada mulutku, kuremaskan bajuku, tengkurap tanda kehancuranku, ku tekukan kedua lututku, menangis tiada henti, rasa tertindas akan kesesalan mulai muncul satu demi satu alasan yang mebuatku semakin lemah, seperti mulai tidak ada kata bangkit pada benakku. Sampai tangisan air mataku menghantarku pada tidur malamku.
Keesokan harinya, aku mencoba untuk membuka mataku yang sembab, bekas air mata masih menempel di kedua pipiku. Aku mencoba untuk bangun dari tempat tidurku, tapi jiwaku tak mampu membangkitkannya. Aku biarkan semua tubuhku menikmati udara pagi baru. Seketika setelah itu, berhembuslah angin mengusap air mata dan beberapa helaian rambut dari pipiku, angin yang menghantarkanku pada indahnya pagi, sejuk nya udara pagi, kehangatan sang mentari menjemputku pada akhir keterpurukanku sebagai seorang wanita terhormat.
Aku mencoba menerima segala keadaanku, ku mencoba membangun kembali senyuman, dan membawanya kembali kepada sang langit. Terucap pada bibirku dengan rerintihan air mata “Tuhan , aku bersyukur, Engkau memberikan ku laki-laki yang pernah melakukan hal tidak baik kepadaku, sekarang aku tahu apa rasanya, aku memang menyesal Tuhan dengan hal itu, aku mengaku salah dan berdosa terhadap kejadian itu. Tapi aku yakin Tuhan, aku bisa berubah dan tidak akan kembali pada kebodohan masa lalu, Terimakasih Tuhan, jika Engkau masih, dan mau memberikan kepadaku kesempatan kedua untuk hidup baruku ini”.
Angin.. membawa ucapanku terbang ke awan, layaknya menghantarkan pesanku kepada Tuhan. Ku pijakkan kakiku berbalik ke arah belakang, memberikan punggungku kepada kilauan mentari, mebiarkan wajahku menghadap kebayang pagiku. Ku senderkan pinggulku ke deretan pagar kayu, dan membiarkan sinar matahari memasuki ruas ruas tulang-tulangku. Aku menganggap pagi ini, adalah awal dari hari baharuku, layaknya anak sekolah yang siap untuk kembali mengawali harinya.
Selimut putih tebal, masih menempel pada tubuhku, sedikit tangisan masih membasahi wajahku. Perlahan terdengar suara ketukan pintu dari arah kamarku. Aku berjalan merintih akan tangisanku, aku mulai perlahan membukanya, dan seketika aku melihat wajah kedua sahabatku berdiri di depan pintu, mencerminkan wajah sedih dan bertanya-tanya, akan aku yang belakangan ini sangat pemurung. Dan pada akhirnya ku ceritakan semua masalah ku kepada sahabatku, tetesan air mata itu mulai mengalir di kedua pipiku, membanjiri seluruh kedua mataku, satu per satu sahabatku mulai menangis, memeluku erat, rasa iba, marah, tak tega, kesal, sedih, mencampuri suasana pagi itu.
Pelukan erat yang diberikan kedua sahabatku, membuatku merintih menangis, penyesalan itu kembali merasuki kembali pikiranku, dan hatiku. Rasa yang begitu lelah, hingga aku sudah tidak dapat bangkit kembali, jemari mereka satu per satu menghapus air mata di pipiku. Hatiku terketuk oleh rasa perhatian mereka, rasa ingin bangkit dari masalah itu muncul kembali, terimakasih Tuhan Engkau memberikan sahabat yang sangat dan begitu baik buat hidupku.
Kami bertiga pun bangkit dari tempat tidur, mereka membawa diriku kearah luar kamarku, atau biasa kami menyebutnya balkon, angin menyambut kedatangan kami bertiga, angin menghapus air mata kami bertiga. Sahabatku.. berhasil membawa senyuman itu kepadaku, terbiaskan senyuman itu mengukir keindahan kembali pada wajahku. Pelukan hangat dari sang mentari membawa aku pada titik terakhir. Dimana aku dan kedua sahabtku mulai tersnyum satu sama lain, pelan-pelan melupakan masalah ini, mengangkat wajah kami kepada langit, dan mulai tertawa. Angin membawa hembusan yang sangat kencang, menderai ketiga rambut kami, dan semua hal berakhir dengan segala keinndahan yang diberikan langit kepada kami bertiga. Bawalah aku pada akhir kebahagiaan.....
sencerly... Angin .
SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar