Selasa, 08 September 2015

my next cerita pendek "Forever In Love" spesific for high school..


Forever In Love
Created by : Gratia Immanuela Corputty

Cinta adalah anugerah...ketika cinta datang menghampirimu,dia akan datang layaknya kabut yang menyelimuti malam mu.
Cerah nya matahari pagi mampu membuat lekuk senyuman di bibir ku. Pantai yang mengalir begitu deras, menghamparkan suara indah yang terdengar melewati telingaku. Ku beranjak dari tempat tidur, menyambut suasana pagi yang indah. Pagi itu ku berjalan membuka pintu rumah, dan berlari menuju derasnya ombak yang mengalir ke arah timur. Ku sambut dengan rasa yang bahagia, ku hempaskan kaki ke pasir..percikkan ombak yang membasahi kaki, membuat ku merasa senang, setiap sentuhan air, hembusan angin yang menyentuh tubuhku, seperti menghapus rasa jenuh di jiwa.
Ku pijakkan kembali kakiku, berjalan sepanjang bibir pantai, meninggalkan jejak kaki yang membekas di ribuan pasir, hembusan  angin yang membuat setiap helaian rambut ku melayang ke belakang.....
“Hmm... ini kah hidup? Rasanya seperti tiada akhir. Tapi aku tahu hidup di dunia ini hanyalah sementara, pijakkan kaki ini sebentar akan tersapu oleh derasnya ombak yang datang, terselimuti smua kenangan yang pernah ada.” ujar ku.
Ku berjalan kembali memandang pemandangan yang sungguh indah dan mengharukan, terbuka kedua mata ku melihat smua keajaiban dunia, menikmati setiap detiknya dengan penuh rasa syukur, hingga aku kembali kerumah ku, dan beristirahat di depan teras rumah ku.
“Sungguh lelah perjalanan ini, tapi sungguh berterimakasih kepada alam yang membawa ku kepada dimensi yang indah. Rasa penat dan jenuh ku akan tugas-tugas yang slalu menghantui terhilang begitu saja, setelah melihat pemandangan yang indah ini.” ujar ku kembali.
Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang menghampiri, ketika aku ingin masuk ke dalam rumah, dan dia pun menyapa dan memperkenalkan dirinya.
“Hai,nama ku Erickson, aku adalah orang yang menginap di Vila sebrang.” ujarnya.
“Aku adalah Immanuela. Apakah, aku mengenalimu?” tanyaku.
           
“Tidak, kita belum saling kenal, hmm..bagaimana kalau malam ini kita jalan ke cafe yang ada di ujung sana?” ajaknya.
“Baiklah..kalau begitu nanti malam jam tujuh. Kalau gitu aku masuk dulu.” jawabku.
Akhirnya Immanuela pun menerima ajakan dari Erickson teman barunya itu. Dia pun segera masuk ke dalam rumahnya, dan meninggalkan laki-laki itu. Immanuel pun masih bingung dengan kedatangan laki-laki itu di rumahnya. Karena dia juga sedang menikmati liburan jadi tidak ada salahnya untuk berkenalan, sekaligus bisa mencari teman. Lagi pula Immanuel juga tinggal sendirian dirumahnya itu, dan membutuhkan seorang teman.

MALAM HARINYA
HARI – 1
Setelah mandi aku pun berganti pakaian. Aku ganti dengan dress panjang berwarna putih berhiaskan pita di sisi kirinya, dengan lengan pendek bernuansa klasik. Gelang yang ku pakai di lengan kanan, dan cincin perak yang ku pasang di salah satu jemari, make-up dan semua yang ku gunakan, telah melengkapi persiapan malamku.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu yang mengetuk pintu rumahku, segera bergegas mengambil tas, dan membuka pintu rumah.
       “Hai, kau sudah datang.” ucapku sambil tersenyum.
       “Yaa! Jadi..apakah kau sudah siap?” tanyanya.
       “Tentu, aku siap.” jawabku dengan gugup.
       “Baiklah kalau begitu, mari kita pergi.” jawabnya.
       “Oke...” jawabku.
Kamipun berjalan menuju cafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Sambil berbincang satu sama lain, dan saling bercerita tentang pantai ini. Tidak terasa sepanjang jalan berbincang, kami pun sudah sampai ditempat.
       “Inilah cafenya..kalau begitu ayo kita masuk.” ajaknya sambil memegang tanganku.
       “Oke..” jawabku.

Dia pun mengantarkanku ke meja makan, dan mempersilahkan ku duduk terlebih dahulu.
       “Silahkan duduk..” ujarnya.
       “Terimakasih.” ucapku sambil tersenyum.
       “Apa yang akan kamu pesan?” tanyanya.
       “Aku akan memesan, steak dan orange juice, bagaimana dengan kamu?” tanyaku.
       “Kalau begitu, aku akan memesan makanan yang sama dengan kamu.” jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
       “Baiklah kalau begitu. Hmm...Jadi sebenarnya apa tujuan kamu mengajakku ke tempat ini? Mungkin ada yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku.
       “Tidak ada apa-apa,hanya ingin sekedar berkenalan dan....mengenal mu lebih dalam” jawabnya.
       “Ouhh... hanya itu? Oke kalau memang itu maksudmu. Hmm.. sedang apa disini? Hanya mengisi liburan? Atau ada acara?” tanyaku.
       “Hanya mengisi liburan saja, bagaimana dengan mu?” tanyanya.
       “Sama denganmu, hanya menikmati liburan selagi bisa.” jawabku sambil tersenyum.
Sepanjang kami berbicara tidak terasa bahwa makanan yang kami pesan sudah datang,kami pun memberhentikan perbincangan kami. Setelah selesai makan Erickson pun menawarkan Immanuela untuk pulang bersamanya,dengan maksud Erickson ingin mengantarkan Immanuela sampai dirumahnya.
       “Bisakah kita pulang sekarang?” ujarku.
       “Bisa. Kalau begitu aku akan membayar ini semua, dan langsung mengantarkan, mu pulang.” ujarnya sambil membersihkan sisa makanan di bibirnya menggunakan tisu.
Dia pun telah selesai membayar makanan,dan menghampiriku kembali untuk mengantarkan ku pulang.
       “Baiklah, saatnya kita pulang. Hehehe..” ajaknya sambil tertawa.
       “Terimakasih telah mengajakku keluar dan mentraktir ku makanan. Hehe..” ucapku sambil tersenyum dan sedikit tertawa.
       “Ya, sama-sama, dengan senang hati. Hmm.. bagaimana kalau besok aku menjemputmu dirumah dan aku akan mengajakmu ke tempat yang sangat bagus. Jaraknya tidak akan jauh dari pantai ini. Hanya beberapa meter dari rumahmu. Bagaimana?” tanyanya.
       “Hm.. Menurut ku itu ide yang sangat bagus, aku akan mempertimbangkannya.” jawabku.
Tidak terasa selama perjalanan pulang dan berbicara dengannya,ternyata aku sudah sampai dirumahku.
       “Sudah sampai... Terimakasih untuk hari ini Immanuel.” ujarnya.
       “Ya sama-sama..seharusnya aku yang bilang terimakasih kepadamu.” jawabku
       “Hahaha.. yasudah, kalau begitu aku harus pulang, sampai bertemu besok jam delapan pagi, tepat di depan rumahmu.” ujarnya.
       “Baiklah.. jam delapan, oke.” jawabku sambil tersenyum
Immanuel pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Erickson pun juga begitu melangkahkan kakinya untuk pergi,pulang kerumahnya sendiri.

PAGI HARI
HARI - 2
Paginya..aku membuka mata ku,mengangkat tangan ku keatas,dan menikmati setiap hembusan angin yang masuk ke kamarku melalui celah jendela yang terbuka sedikit. Kupandang dari kamarku deburan ombak yang keras,kicauan burung yang banyak,daun-daun dan pohon-pohon yang bergoyang ke kanan dan kiri,semakin menambah lengkap indahnya pagiku.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu yang kedua kalinya berbunyi. Lalu aku terbingungkan dan melihat jam di dinding yang menyatakan sudah jam delapan pagi,aku pun belum bersiap-siap,karena terlintas di pikiranku,bahwa tadi malam aku ada janji dengan Erickson untuk pergi ke suatu tempat pagi ini. Aku pun langsung turun dari tempat tidur ku dan segera berganti pakaian,dan keluar.
“Hai!” jawabku dengan sedikit terkejut.
“Hai. Selamat pagi. Apakah kamu siap berangkat?” tanyanya.
“Ya.. aku siap.” jawabku sambil tersenyum.
“Jadi, kemana kita akan pergi sekarang?” tanyaku.
“Pastinya ketempat yang asik dan indah, yang gak akan pernah kamu lupain.” jawabnya dengan gembira.
“Sungguh? Baiklah ... kau membuatku semakin penasaran. Haha...” jawabku dengan gembira.

Sekitar lima belas menit dari pantai kami berjalan, sampailah kami di tempat tujuan, tempat itu bernama “Penangkaran Penyu”. Ini adalah tempat yang sangat indah. Kita bisa menemukan banyak anak-anak penyu yang sekarang sudah langka keberadaannya dan hampir punah.
       “Bagaimana? Kau suka tempatnya?” tanyanya.
       “Yaa.. aku suka.. sangat suka. Bahkan ini kedua kalinya aku kesini.” jawabku,sambil tersenyum.
       “Kedua kali? Kapan kamu pernah kesini sebelumnya?” tanyanya.
       “Waktu aku masih kecil mungkin sekitar aku berumur lima tahun, waktu ayahku mengajakku kesini dan menginap dirumah itu, yang sekarang aku tempati.” jawabku.
       “Ayah? Tinggal disini? Lalu dimana ayahmu sekarang?” tanyanya.
       “Sekarang ayah ku ada di luar kota, bekerja bersama dengan ibuku, dan menjaga adikku yang masih kecil disana.” jawabku.
Karena perbincangan ini sedikit mengulang masa lalu ku. Aku pun jadi merindukan ayah ku. Aku pun sedikit sedih,karena sekarang aku menikmati liburan tanpa mereka.
       “Apakah, kamu baik-baik saja? Aku tidak bermaksud membuatmu sedih.” ujarnya.
       “Tidak apa-apa, haha.. ini hanya membuat ku merindukan ayahku.” jawabku sambil tersenyum.
       “Kalau begitu mari kita lihat penyu-penyu yang ada disini, ayooo...” ajaknya sambil memegang tangan ku.
Kami pun melihat banyak sekali penyu yang ada,anak-anak penyu yang di lahirkan dari induknya,bagaimana cara mereka berjalan,dan semuanya ada disitu. Kami saling tertawa bersama, menyentuh penyu itu bersamaan, membersihkan dan memberi makan penyu itu juga bersama-sama.
Dan sampai pada akhirnya.....kami lupa akan waktu, dan beristirahat sejenak di depan pantai. Kami duduk di atas pasir putih yang indah, di temani dengan kerang laut yang banyak yang mengitari kami berdua. Kami saling terlihat kelelahan, tapi kami pun juga senang, rasa senang yang ditandakan dari senyuman kami berdua.
       “Lagi-lagi... terimakasih untuk hari ini, aku sangat senang. Ternyata kamu adalah orang yang baik. Dan terimakasih untuk penyu-penyu itu juga. Hahaha..” ucapku sambil tersenyum dan sedikit tertawa.
       “Yaa,.. sama-sama aku juga sangat senang bisa berkenalan denganmu. Apakah besok kita akan bertemu lagi?” tanyanya sambil menatapku.
       “Aku tidak tahu,besok ayahku menyusulku kesini.” jawabku sambil menatapnya balik.
       “Baiklah kalau begitu...kita lihat besok.” ujarnya sambil berdiri. “Aku harus segera kembali, dah...” ucapnya sambil tersenyum kepadaku.
       “Yaa.. dahh..” ucapku kembali.
Aku pun masih duduk dan menikmati pantai di suasana sore yang indah. Hembusan yang begitu kencang,sampai menghapus keringat ku,hingga aku terlelah dan kembali ke rumahku,berjalan,sambil menikmati sunset di sore hari.

KEESOKAN HARINYA
HARI - 3
Keesokan harinya,ayah ku datang kerumahku. Untuk menemaniku liburan. Aku pun segera beranjak dari tempat tidurku,dan merapihkan rumah ku. Ku bersihkan diri ku,untuk bersiap-siap bertemu dengan ayahku.
Terdengan suara mobil datang dari arah luar rumahku. Dengan beberapa barang di belakangnya. Ku lihat sebuah piano besar berwarna hitam. Aku pun segera berlari menuju ayahku,dan segera memeluknya.
       “Ayah...!!!! aku sangat senang ayah ada disini. Apa kabar ayah?” tanyaku dengan gembira.
       “Ayah, baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Dan liburanmu, tentunya? Haha..” tanya ayahku sambil memelukku dengan perasaan yang sangat gembira, seraya merindukankku.
       “Aku baik-baik saja disini, biar ku bantu ayah menurunkan barang-barang. Jadi.. bagaimana dengan Ibu dan Adik dirumah? Apakah mereka baik-baik saja?” tanyaku.
       “Yaa.. tentu! Mereka sangat baik-baik saja. Jadi bagaimana dengan rumah ini? Ayah sangat merindukan kenangan dirumah ini. Sungguh menyenangkan bukan?” tanya ayahku dengan gembira.
“Ya! Sangat menyenangkan. Apakah ayah masih ingat, waktu ayah membawa ku ke tempat penangkaran penyu?” tanyaku sambil membantu ayahku, menurunkan barang ke dalam rumah.
       “Ya, tentu ayah masih ingat dengan momen itu. Memangnya ada apa?” tanya ayahku.
       “Kemarin aku pergi kesitu, bersama dengan teman baruku.” jawabku.
       “Apakah dia laki-laki?” tanya ayahku, dengan wajah yang tidak terlihat baik dan suram.
       “Yaa. Dia laki-laki,dia bernama Erickson. Dia adalah laki-laki yang tinggal di Vila sebrang, dia mengajakku ke tempat penangkaran penyu yang waktu itu ayah sempat membawa ku kesana. Tenang ayah.. dia laki-laki yang baik ko.” jawabku sambil tersenyum.
       “Baiklah..ayah tidak pernah meminta mu untuk tidak berteman dengan siapapun di lingkungan baru seperti ini. Ayah hanya ingin kamu lebih berhati-hati.” ujar ayahku.
       “Baiklah ayah...” jawabku sambil membawa barang-barang.
Setelah kami selesai membawa barang-barang dari mobil, aku pun membantu ayahku merapihkannya. Terutama piano yang besar itu, itu sangat berarti untukku. Karena piano itu membawa ku ke dunia masa kecilku. Setiap alunan lagu yang di mainkan oleh ayahku, selalu membuatku tersenyum. Ku pandang terus piano itu.
       “Mainkanlah piano itu..” ujar ayahku.
       “Aku ingin melihat ayah bermain untukku. Aku ingin merasakan rasanya kembali ke masa lalu dengan melihat ayah bermain.” ujarku sambil tetap memandang piano itu.
       “Ayah harap kamu yang akan memainkannya nanti untuk ayah.” katanya sambil merangkul dan memelukku.
       “Ayah? Apakah ayah baik-baik saja?” tanyaku.
       “Yaa.. ayah baik-baik saja.” jawabnya sambil meninggalkanku.










SORE HARINYA
HARI - 4
Sore harinya ayahku membuatkan masakan kesukaan ku. Dia adalah orang yang tahu betul seleraku. Aku tersenyum sangat bahagia, terukir di wajahku. Ku peluk ayahku dan berkata terimakasih ayah telah datang dan membuat ku lebih merasa senang dan nyaman.
Kami pun makan bersama, menikmati pantai yang begitu indah. Bagiku, liburan bersama ayahku sangatlah indah, dengan momen-momen seperti ini yang membuatku lebih merasa bersyukur. Melihat ayahku tersenyum dan bahagia bersama dengan anaknya adalah keinginan semua orang.
Tidak akan ada yang tahu kapan semua ini akan berakhir, yang aku inginkan hanyalah tetap berada dekat dengan ayahku, melewati semua detik kehidupan bersama dengannya.
       “Ayah ... aku ingin terus seperti ini. Bersama dengan ayah di sepanjang hidupku. Bersama dengan Ibu dan Adik juga.” ujarku dengan mata yang berkaca-kaca.
       “Ayah juga ingin seperti itu.” Dia datang kearahku, dan merangkulku serta mencium keningku dengan hangat.
Kuteteskan air mataku, rasa sedih yang terlintas di benakku menyampaikan semua harapan dan isi hatiku dengan setiap tetesan yang jatuh tepat membasahi pipiku. Dan disitulah kami berhenti makan dan melanjutkan aktivitas kami di dalam rumah.
Waktu kami masuk kedalam rumah, ayah ku masuk kedalam kamar, dan mengambil suatu barang, akupun beranjak ke teras belakang rumahku, dan duduk tepat di depan piano. Ku sentuh setiap not di atasnya. Rasanya satu kali sentuhan yang kulakukan membawaku kembali ke masa laluku. Lalu tiba-tiba ayahku datang membawa buku panjang, yang bertuliskan “My Beloved Memory”.
       “Ini adalah buku kenangan kita. Ini semua berisikan foto-foto waktu kamu dan adik kamu masih kecil, waktu ayah dan ibu masih muda, waktu kamu menjelang dewasa, dan semuanya ada disini.” ujar ayahku.
       “Ayah.. ini bagus sekali. Boleh aku melihatnya?” ujarku.
       “Tentu!!” jawab ayahku sambil bergembira.
Aku pun beranjak dari tempat duduk,dan memandangi setiap foto yang ada di buku itu. Terkadang aku bisa meneteskan air mataku,dan terkadang aku mampu tersenyum. Melihat semua kenangan itu,dan sekali lagi membawaku ke dimensi yang berbeda.
Tidak lama kemudian ada seseorang yang datang kerumahku,dan mengetuk pintu rumah. Aku pun segera bergegas dan membuka pintu itu.
       “Hi.. apa kabar?” ujar Erickson.
       “Kamu? Hai! Apa kabar? Mau masuk?” tanya ku.
       “Tidak usah, pasti masih ada ayah mu di dalam. Aku hanya inginn...” ujarnya, kata-katanya terpotong oleh ayahku yang datang menghampiri kami berdua.
       “Siapa ini? Laki-laki yang kamu ceritakan itu?” tanya ayahku.
       “Yaa.. dia adalah Erickson yang membawaku ke tempat penagkaran lalu.” jawabku.
       “Jadi kemana kalian akan pergi hari ini?” tanya ayahku.
       “Tidak yah, kami tidak akan pergi kemana-mana, Erickson kesini hanya ingin berbicara suatu hal kepadaku, bisakah ayah tinggalkan kami berdua disini?” tanyaku.
       “Hm.... baiklah kalau begitu. Tidak lama yah...” ujar ayahku.
       “Terimakasih ayah...” jawabku.
....................................................................................................................................................

       “Jadi, kenapa kamu kesini?” tanyaku.
       “Aku ingin mengajak mu ke pantai besok, bagaimana? Jam tiga sore di pantai? Oke?” ujarnya.
       “Baiklah jam tiga sore di pantai. Haha..” ujarku sambil tersenyum bahagia.
Dia pun meninggalkan rumahku. Aku pun sangat senang dia datang kerumah ku dan mengajakku bermain kembali. Sesampainya aku kembali kerumah, ayahku mengalunkan sebuah lagu dari piano itu, aku bermain bersama dengan ayahku.
Kami melakukan aktivitas bersama-sama, setiap alunan, dan aktivitas yang kami lakukan pada malam itu sungguh menyenangkan dan berarti untukku. Sampai pada akhirnya kami pun merasa kelelahan dan ingin rasanya beristirahat.
       “Ayah akan tidur duluan, bagaimana denganmu?” tanya ayahku
       “Sebentar lagi yah.” jawab ku sambil tersenyum.
Aku pun duduk di sofa memandang semua kejadian ini. Aku sangat senang kalau ayahku bisa bersama ku satu malam penuh ini.
Setelah sekian lama aku duduk di sofa, aku pun juga merasa kelelahan dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan masuk ke kamar tidur ku. Setelah beberapa lama aku tertidur lelap, aku terbangunkan dengan suara batuk yang sangat keras dari luar. Ku beranjak dari tempat tidurku. Dan aku keluar melihat lampu kamar mandi yang menyala, dan ku lihat ayahku berdiri disitu sambil membungkukan badannya. Wajahku yang masih setengah ngantuk itu, masih terpasang di mukaku.
       “Ayah? Apakah kamu baik-baik saja?” tanyaku.
       “Yaa! Ayah baik-baik saja. Kenapa kamu belum tidur?” tanya ayahku sambil mengusap bibirnya menggunakan tisu.
       “Aku terbangun, mendengar batuk ayah yang cukup keras, apakah ayah sakit? Ayah sedang tidak baik-baik saja.” ujarku dengan muka yang khawatir.
       “Tidak..ayah tidak apa-apa..ini hanya batuk biasa saja. Sebaiknya kamu kembali tidur.” ujar ayahku.
       “Ayah....” ujarku.
       “Sudah tidur sana, ayoo ini sudah larut malam.” Ayahku pun mengantarku sampai di depan kamarku.
       “Selamat tidur ayah....”ucapku.
       “Selamat tidur sayang..” jawab ayahku.

KEESOKAN PAGINYA
HARI - 5
Keesokan paginya pun aku terbangun dengan badan yang sangat sehat. Ku buka pintu kamar ku, dan di sambut dengan makanan pagi yang sangat enak. Ayahku membuatnya dengan sangat enak dan harum. Kami pun makan bersama-sama menikmati suasana pagi yang indah sambil diiringi musik instrumental karya Kenny G. Aku sangat senang dan tetap merasa bahagia. Tawa di hati dan senyumku. Menjelaskan semuanya.
Sampai menjelang sore hari, aku sedang membaca novel di teras rumahku yang mengarah ke arah laut, dengan hembusan angin dan suara ombak yang terlintas di telingaku, menambah hangat suasana sore ku.
Ketika aku sedang membaca novel, aku mendengar suara batuk dari arah dalam rumahku. Dan aku pun berfikir bahwa itu adalah suara batuk ayahku.
       “Ayah? Apakah ayah baik-baik saja?” tanyaku. “Aku mulai mengkhawatirkan ayah.” ujarku.
       “Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Ini hanyalah batuk biasa saja.” ujar ayahku.
       “Kemarin ayah juga bicara seperti itu. Sekarang ayah juga bicara seperti itu. Ini bukanlah batuk yang biasa ayah. Apakah perlu ku antarkan ke dokter?” tanyaku.
       “Tidak perlu, ayah baik-baik saja. Tidak apa-apa sayang.” ujar ayahku sambil mencium kening ku.
Beberapa saat kemudian Erickson datang menjemputku untuk bermain kepantai. Aku pun langsung bertemu dengannya dan membukakan pintu untuknya.
       “Jadi kalian akan main?” tanya ayahku sambil tersenyum.
       “Ya om, kami akan main bersama-sama di pantai. Tidak akan lama-lama,saya janji.” Ujar Erickson.
       “Baiklah kalau begitu, bawa dia, dan buat dia merasa bahagia.” ujar ayahku.
       “Ayah... apaansih..” ujarku dengan senyuman.
       “Baik kalau begitu kami permisi dulu om.” ujar Erickson.
       “Dahh ayah....” ujarku.

Kami pun pergi ke pantai dan bermain bersama. Erickson mengajakku ke suatu tempat yang cukup aneh. Dia mengajakku ke suatu tempat yang hanya di pagari oleh pagar kawat yang ,mungkin panjang dan lebarnya berukuran sama yaitu delapan puluh centi meter. Aku pun hanya merasa bingung tetapi merasa penasaran. Ku mengitari pagar itu.
       “Apa ini? Ini seperti sebuah sarang atau semacamnya.” ujarku.
       “Semalam aku melihat banyak sekali telur penyu disini, akhirnya aku pagari agar tidak ada orang yang mengambilnya. Anak-anak penyu ini akan menetas besok lusa tepatnya di pagi hari” jawabnya.
       “Apa? Serius? Astaga..” jawabku sambil terkejut dan merasa senang.
       “Maka dari itu aku membawa mu kemari untuk melihat bagaimana penyu ini keluar nantinya” ujarnya sambil tersenyum kepadaku.
       “Hmm... terimakasih untuk ini semua” ujar ku sambil tersenyum kepadanya.
Selepas kami dari tempat tersebut, Erickson mengajakku untuk bermain di pantai kami saling menciprat air satu sama lain, sehingga baju kami basah semuanya, dia menggendong ku, kami juga berlari dan kejar-kejaran sampai akhirnya aku lelah dan tiduran di atas pasir yang indah, lagi-lagi hembusan angin datang menghapus semua rasa letih ku yang berhujung kebahagiaan ini.
       “Ini untukmu.” ujar Erickson sambil memberikan minuman kepadaku.
       “Terimakasih.” Jawabku.
Immanuela pun meminum-minuman yang di berikannya kepadanya. Tanpa Immanuela sadari Ericson melihat nya dengan tajam. Dia seperti ingin menyatakan sesuatu kepada Immanuela. Lalu Immanuela pun menoleh kearahnya.
       “Ada apa? Mengapa kamu melihat ku seperti itu? Apakah ada yang salah dengan ku atau kamu ingin bicarakan suatu hal dengan ku?” tanyaku.
       “Terkadang hanya sikap yang mempu buktikan semua kepadamu. Hmm.. aku harus mengantarkan mu pulang. Ayo..” ujarnya sambil memegang tanganku.
Aku pun masih bingung dengan semua kata-kata yang dia maksud. Mengapa dia berkata seperti itu. Aku hanya mampu menatapnya sambil berjalan dengan memegang tangannya.
       “Sudah sampai...” ujarnya, padahal aku masih, melihat ke arahnya. “Immanuel? Hey.. sudah sampai dirumahmu..” ujarnya kembali sambil tertawa.
       “Apa? Sudah sampai? baiklah” jawab ku dengan gugup.
       “Besok kita akan bertemu lagi.”  ujarnya..
       “Baiklah.. terimakasih untuk hari ini Erickson, aku sangat senang, dan tempat persembunyian penyu itu.. itu sangat indah..” ucapku.
       “Ya sama-sama.” jawabnya.
Ketika Immanuela ingin masuk ke dalam rumahnya. Erickson memanggil namanya.
       “Immanuela..” ujarnya.
       “Yaa??” jawabku.
       “Sejujurnya ada hal yang ingin ku ucapkan kepadamu..” ujar Erickson.
Ketika Erickson ingin menyampaikan perasaan yang sesungguhnya kepada Immanuela, tiba-tiba terdengar suara batuk dari dalam rumahnya. Immanuela pun langsung masuk kedalam rumahnya dan segera menghampiri ayahnya. Immanuela meninggalkan Erickson di luar. Dan ternyata saat itu bukanlah momen yang tepat untuk menyatakan perasaannya kepada Immanuela. Erickson pun meninggalkan Immanuela, dan kembali ke Vilanya.
       “Ayah? Ayah kenapa? Ini sudah ketiga kalinya aku mendengar suara ayah seperti ini? Ayah tidak baik-baik saja.” ujarku khawatir.
       “Ayah tidak apa-apa ko. Sebaiknya kamu bersihkan dirimu, badan mu sangat kotor.” ujar ayahku.
       “Ayah.. ayah ini ada apa? Jangan sembunyikan apapun dari aku. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang ayah alami saat ini. Termasuk batuk ini.” ujarku.
Ayahku hanya diam dan tersenyum,sesekali mengarah ke arah pantai. Lagi-lagi ayahku tidak mau memberitahukannya kepadaku. Dan terkadang aku terbingungkan oleh sikap ayahku. Mengapa dia mencoba untuk menutupi ini semua kepada ku. Aku mulai khawatir dan ingin rasanya mencari tahu yang terjadi dengan ayahku.
....................................................................................................................................................
Keesokan paginya, aku pun secara diam-diam masuk kekamar ayahku mengambil semua obat-obat yang ayah ku konsumsi, kemudian mengecek semua obat-obat tersebut di internet, kandungan dan fungsi apa saja yang ada di dalam obat itu. Dan aku pun merasa terkejut, ternyata itu adalah obat untuk penyembuh kanker paru-paru.
Aku pun segera menutup internet ku, dan mengembalikan semua obat-obat yang ayah ku konsumsi kembali ke tempatnya. Dengan rasa sedih dan terkejut, aku pun segera keluar dari rumah dan menuju teras rumahku.
Aku duduk di depan piano hitam itu, dan mengalunkan sebuah musik, hanya itu yang dapat kulakukan ketika aku merasa sedih sampai seperti ini. Ketika aku sedang bermain piano, tiba-tiba ayahku datang.
       “Alunan yang sangat indah, sudah lama ayah tidak melihatmu bermain.” ujar ayahku.
       “Ayah... yaa, aku sangat senang bisa mengalunkan musik indah seperti ayah dulu. Waktu ayah mengajari ku.” jawabku.
       “Ayah akan sangat senang jika kamu bisa memainkannya untuk ayah di suatu saat nanti, entah itu, atau apapun momen itu, ayah akan senang jika kamu memainkannya di momen yang spesial untuk ayah.” ujar ayahku.
Aku teringat kalau besok adalah ulang tahun ayahku. Aku pun juga teringat kalau besok adalah hari dimana penyu-penyu itu akan menetas. Aku pun sangat senang, sekaligus sedih karena aku harus memandangi wajah ayahku yang pucat. Tanpa ayahku sadari aku sudah mengetahui penyakitnya terlebih dahulu. Entah apa yang harus ku perbuat.
Pada sore itu, Erickson datang kerumahku. Dan menjemputku untuk melihat tempat persembunyian penyu-penyu itu. Aku pun berpamitan dengan ayahku untuk pergi bersama dengannya. Dia memegang tanganku erat dan berlari melewati pasir putih yang indah, sayup angin ombak yang kencang membuat ku seperti melawan arus.
Sesampainya kita di tempat persembunyian itu, kami menggali sedikit telur-telurnya. Dan Erickson mengecek apakah telur itu siap menetas atau tidak. Dan ternyata telur-telur itu akan siap menetas. Kami berdua pun sangat senang. Dan kami menutup telur-telur itu dengan pasir kembali.
Seperti biasa Erickson selalu mengajakku ke pantai untuk bermain, tapi kali ini.....ada sesuatu yang berbeda darinya. Ketika kami bergandengan tangan, berjalan berdua menyusuri pantai, terlihat dari jauh sebuah meja putih dan dua kursi, serta satu lilin yang menyala di tengahnya.
Aku pun menatap ke arah Erickson seperti tercengang, dan berkata-kata dalam hati (Apakah semua ini untukku? Apakah ini benar-benar untukku?). Tapi Erickson hanya bisa melihat ku, menatap ke arah kedua mataku, dan tersenyum, seakan memang semua ini dia yang buat untukku.
       “Apakah ini benar-benar untukku?” ujar ku sambil terkejut dan tersenyum
       “Yaa... ini untuk mu.” jawabnya sambil tersenyum bahagia ke arahku. “Silahkan duduk.” ujarnya sambil membuka tempat duduk untukku, sama seperti waktu dia membukakan tempat duduk untukku waktu pertama kali bertemu.
       “Wahh!! Aku sangat senang.. ini sungguh indah, meja makan di atas pasir, pemandangan pantai, dengan hembusan angin yang sejuk, deburan ombak pantai yang indah, kicauan burung yang merdu, semuanya.. semuanya!” ujarku dengan bahagia.

       “Apakah kau bahagia?” tanyanya dengan senyuman yang menawan dari bibirnya.
       “Apakah kau bercanda? Ini lebih dari bahagia untukku.” jawabku dengan senyum di wajahku.
       “Aku ingin memberikan sesuatu untukmu.” ujarnya.
Erickson pun mengambil kotak musik dari bawah meja, dan mengambil alat musik itu. Ternyata Erickson adalah laki-laki yang sangat mahir dalam bermain sexophone. Dia pun mengalunkan nada yang indah dia memainkan salah satu musik instrumental yang berjudul My Heart Will Go On.
Dia menyanyikannya di depan Immanuela. Immanuela hanya bisa tersenyum bahagia, terharu, melihat sikap Erickson yang seperti ini. Immanuela menikmati setiap alunan musik yang dimainkan oleh Ericson.
Tanpa mereka berdua sadari, ternyata Ayah Immanuela, melihat aksi Erickson yang seperti itu. Ayahnya sangat bangga kepada Erickson, ayahnya terharu melihat anaknya yaitu Immanuela mendapati seorang teman yang mampu membuatnnya bahagia. Ayahnya pun berharap kalau Erickson dapat mencintai anaknya.
Hanya tersisa harapan-harapan indah yang akan membuat ayahnya bertahan. Dia hanya ingin melihat senyuman di wajah anak perempuannya itu, sebelum dia meninggalkan kehidupannya.
Setelah itu di pantai...
Setelah Erickson berhasil memainkan alat musik untuk Immanuela. Erickson pun mulai menyatakan perasaannya kepada Immanuela.
       “Immanuela?” ujar Erickson.
       “Yaa Erickson?” jawabku.
       “Aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.” ujar Erickson.
       “Yaa? Silahkan.. dengan senang hati.” jawabku dengan senyuman sekaligus perasaan ku yang tegang.
       “Sebenarnya, sejak awal kita bertemu aku sudah menaruh perasaan denganmu, rasa suka yang ada di hati ini. Begitu banyak cara yang ingin ku nyatakan kepadamu untuk menyampaikan rasa suka ku. Tapi terkadang cara itu selalu terhalang. Tapi saat ini...sekarang.... Aku mampu mengutarakan ini kepadamu. Jadi.. Immanuela.. maukah kamu menjadi pasangan hidupku?” ujar Erickson dengan wajah tersenyum.
       “Hmm.. entah apa yang harus kukatakan kepadamu. Aku juga memiliki perasaan yang sama dengan mu. Rasa suka yang muncul sejak kamu datang kerumahku, mengajakku ke tempat-tempat yang indah, tempat-tempat yang selalu membuat ku terkejut. Jadi... Erickson... aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Dan aku... aku bersedia menjadi pasangan hidup kamu.” jawabku dengan senyuman indah.
       “Apakah kamu serius? Serius???? Aaaa !!!” ujarnya dengan tawa yang bahagia.
       “Yaaa aku serius.. hahahaha..” jawabku dengan bahagia.
Dia pun akhirnya loncat, dan memelukku dengan hangat, dia memelukku hingga mengangkatku berputar sampai mengenai deburan ombak yang datang menghampiri kami berdua. Dia mencium keningku dengan sangat lembut, dan terus memeluk ku hingga matahari terbenam.
Aku sangat bahagia dengan ini semua. Semua yang sudah dia lakukan kepadaku semua sungguh berarti, sampai aku bisa menjadi kekasihnya. Dia pun mengantarkan aku pulang kerumah, dia menggandeng tanganku, dengan erat dan penuh kebahagiaan.
       “Terimakasih untuk hari ini,,,, terimakasih telah mengantarkan aku pulang.” Ujar ku sambil memegang tangannya dan dengan senyuman.
       “Ya..sama-sama,aku juga sangat bahagia bisa menjadi milikmu, dan terimakasih juga untuk semuanya.” ujarnya kepadaku dengan muka senyum bahagia.
       “Baiklah kalau begitu aku harus masuk ke dalam, kasian ayahku sudah menungguku lama...” ujarku.
       “Baiklah.. Selamat malam, i will miss you..” ujarnya dengan senyuman.
       “I will miss you too...” jawabku dengan senyuman.
....................................................................................................................................................
Akupun masuk ke dalam rumah dengan penuh bahagia dan gembira. Tidak berapa lama kemudian ayahku datang menghampiri ku, dan tersenyum melihatku. Dia merangkul ku dan memberi ku kecupan hangat di keningku. Dia mengucapkan terimakasih, dan meminta maaf kepadaku.
Entah apa maksud ayahku, aku hanya menganggapnya positiv dan terus tersenyum di depan ayahku.
Aku tidak ingin di hari ulang tahun ayahku besok, hanya ada tetesan air mata yang keluar. Aku akan buat suatu yang hebat dan spesial untuk ayahku. Didalam hatiku aku hanya berkata, kalau besok aku akan menyanyikan satu lagu untuk ayahku.

Dimalam itu kami pun saling berdekatan, bercerita tentang kejadian sore tadi, dan setelah itu makan malam bersama. Malam pun semakin larut. Akhirnya aku berkata kepada ayahku untuk istirahat terlebih dahulu.
Dimalam itu setelah aku tertidur lelap. Tanpa aku sadari bahwa ayahku, mengalami batuk-batuk lagi. Bahkan batuk-batuk itu semakin parah, hingga mengeluarkan darah. Ayahku hingga sesak napas menahan sakit dan nyeri di dadanya, penyakitnya semakin parah, entah apa yang akan terjadi esok hari. Hanya mukjizat dan waktu yang mampu menjawabnya.

KEESOKAN PAGINYA
HARI KE - 6
Pagi-pagi sekali aku terbangun. Aku beranjak dari tempat tidurku, dan mengambil kue dari kulkas, ku pasangkan ke dua lilin yang menyatakan umur ayahku di atas kue itu, kue yang di balut coklat yang lezat, dan taburan wafer yang renyah, yang membuat suasana lebih indah lagi.
Aku pun membawa kue itu, dan ku letakkan di atas piano. Kemudian, aku melihat ayahku mulai membuka pintu kamarnya, dan aku pun langsung memainkan piano, musik instrumental kesukaan ayahku.
Kemudian ayahku mulai mendekati diriku, dan dia mulai tersenyum.
       “Terimakasih anakku... ini sungguh indah.. musik yang indah, kue, lilin, dan semuanya.. terimakasih, atas semuanya.” ujar ayahku dengan muka yang gembira, ayah datang ke arah ku, memeluk ku dengan tetesan air mata di pipinya. Lalu...dia mencium kening dan pipiku dengan hangat, hingga aku pun meneteskan air mataku, dan ayahku mengusap air mataku dan berkata...
       “Jangan ada air mata di hari ini. Ini adalah hari ayah, ayah hanya ingin melihat senyuman dari wajahmu nak...Ingatlah ketika, cahaya matahari muncul dari arah timur, dan kamu melihat cahaya terang dari sana, lihatlah kenyamanan yang terpancar, rasakan hangatannya, dan mulailah berjalan ke ombak dan sentuhlah kakimu kesana, rasakan kedatangan air itu, itu bagaikan cinta yang tak pernah habis, sama seperti hembusan angin yang slalu mengusap kejenuhan mu. Gapailah apa yang kamu inginkan, pertahankanlah jika itu harus kamu lakukan.” ujar ayah ku, sambil menyentuh pipiku, kemudian ayahku kembali memelukku.
Setelah Immanuela dan Ayahnya memotong kue bersama-sama, bernyanyi bersama-sama. Mereka sudah merasakan kebahagiaan sepenuhnya. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Immanuela pun segera bergegas untuk membukanya, awalnya dia pikir itu adalah Erickson yang akan menjemputnya pagi-pagi untuk melihat telur penyu yang akan menetas pagi ini.
Setelah di buka pintu rumahnya. Ternyata yang datang adalah Ibu dan Adik nya. Mereka datang untuk merayakan hari ulang tahun bersama-sama. Ayahnya pun terkejut dengan kedatangan mereka berdua.
Akhirnya mereka berduapun berkumpul bersama, saling memainkan piano. Dan ayah, pun akhirnya memainkan piano untukku. Aku begitu bahagia melihat ayah dapat bermain piano di hari ulang tahunnya.
Kemudian sekitar jam setengah enam pagi, terdengar suara ketukan pintu kembali. Adikku segera bergegas membukanya. Dan ternyata yang datang adalah Erickson. Aku, Ibu, dan Ayahku, langsung ke depan pintu dan bertemu Erickson.
       “Erickson.” Ujarku.
       “Siapa ini nak?” tanya Ibuku.
       “Dia adalah Erickson. Laki-laki yang selama ini menemaniku, berlibur disini, bersama dengan ayah juga. Dia adalah kekasihku sekarang Bu.” jawabku.
       “Baiklah kalau begitu.” ujar ibuku sambil tersenyum bahagia.
       “Ada apa pagi-pagi begini datang?” tanya ayahku.
       “Saya ingin mengajak Immanuela, untuk melihat bayi-bayi penyu yang akan menetas pagi ini.” Jawabnya.
       “Penyu? Penyu!” ujar adikku.
       ”Yaa.. bayi-bayi penyu yang cukup banyak.” ujar Erickson sambil mengelus kepala adikku dan dengan wajah yang tersenyum.
       “Baiklah...!!” Adikku begitu gembira, dan dia pun segera berlari ke belakang untuk mengambil sesuatu.
       “Baiklah, aku akan pergi bersamamu. Tidakkah lebih terasa menyenangkan kalau Ayah dan Ibu ikut bersama kami. Lagi pula ini adalah hal yang paling menyenangkan yang akan kita lakukan.” ujarku.
       “Baiklah.. Ayah dan Ibu akan ikut bersama dengan kalian.” ujar Ayah dan Ibuku dengan wajah tersenyum.
....................................................................................................................................................

Sebelum kita pergi, dan beranjak keluar rumah, Adikku pun datang sambil membawa senter. Dan dia pun berlari begitu kencang ke arah pantai.
       “Ayoo... cepat!!” ujar adikku.
       “Mengapa adikmu sangat bersemangat? Haha.. Tapi aku sangat senang melakukan hal ini bersamamu.” ujar Erickson sambil memegang tangan Immanuela.
       “Aku juga...” jawab Immanuela dengan genggaman erat di tangannya, dan lekuk senyuman manis dari wajahnya.
Ibu dan Ayahnya pun juga seperti mereka berdua bergandengan tangan dan bahkan sangat erat, Ibunya menurunkan kepalanya ke pundak ayahnya, mereka berjalan layaknya dua insan yang sangat mesra, kecupan hangat yang di berikan ayahnya kepada ibunya, menandakan cinta kasih yang erat di antara mereka berdua.
Deruan ombak yang kencang, hembusan angin yang sejuk, melengkapi perjalanan kami menyusuri sepanjang pantai untuk pergi ke tempat persembunyian penyu itu.
Sesampainya disana kami melihat banyak anak penyu yang keluar dari pasir, tempatnya dulu dierami, di bawah tumpukkan pasir yang membuatnya hangat hingga mereka boleh menetas dengan sempurna.
       “Lihat penyu-penyu itu!!” ujar adiknya.
       “Kita harus menyinari mereka dengan senter!” ujar Erickson.
       “Untuk apa?” tanya Immanuela.
       “Untuk menerangi jalan mereka menuju pantai. Sehingga mereka tidak tersesat” ujar Erickson kembali sambil memandangi wajahku dengan penuh senyuman.
       “Baiklah..” ujar Immanuela dengan balas senyumnya yang indah terhadap Erickson.
Semenetara Erickson, Immanuela, dan Adiknya memerhatikan penyu. Ayah dan Ibu Immanuela menikmati pemandangan pantai yang indah.
************
Tiba-tiba sang ayah jatuh tersungkur dengan mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya, ayahnya memegang dadanya seraya menahan rasa sakitnya. Aku pun langsung menoleh ke belakang dan menjatuhkan senter ku, dan berlari menuju ayahku.

“Ayahh! Ayah!!” ujarku sambil meneteskan air mata.
       “Ayah bangun..... bangun yahh..” ujar ibu sambil menangis.
       “Ayah! Ayahhh!!” teriak adikku, sambil memeluk ayahku.
       “Akan ku bantu ayah mu kedalam.” jawab Erickson dengan wajahnya yang penuh khawatir sambil mengangkat ayahnya kedalam.
...................................................................................................................................................
Erickson pun segera menelpon dokter yang terdekat.
Tidak berapa lama kemudian dokter pun datang, dan menyatakan bahwa sang ayah, tidak bisa di selamatkan. Penyakit yang di deritanya sudah sangat parah.
 Aku pun tersungkur di depan ayahku, tetesan air mata jatuh dan terus membanjiri pipiku. Rasa yang tidak adil, seperti takdir berpihak kepada ku. Tapi aku tahu satu hal yang selalu ayahku katakan kepadaku : ”Tuhan itu selalu benar, apapun rencana yang Dia buat untuk umatnya, akan selalu Indah pada waktuNya. Syukuri itu dan jangan jadikan itu suatu penyesalan. Karena penyesalan hanya membawa mu kepada masa lalu yang hanya mampu membuat mu terjatuh.


Bangkitlah dari keterpurukan itu, dan bawalah bintang bersama denganmu, dan biarlah terang matahari menyinari mu. Lihatlah langit di malam hari. Segelap apapun langit itu, suatu saat nanti dia akan menyinari mu dengan segala kehangatan yang mereka punya. Jangan jadikan air hujan sebagai alasan kabut hitammu, jadikanlah pelangi sebagai alasanmu untuk hidup.
Karena hidup itu seperti pelangi, yang mempunyai banyak warna, mempunyai banyak kejadian dalam hidup. Ikutilah hidup ini seperti deras ombak di pantai, yang akan selalu mengalir kemanapun, dan biarlah hidup dan mimpimu, mengalir terus dan jadikan itu berarti. Dan jagalah keberanian dan tekat mu seperti pasir yang tiada pernah habis untuk terhitung. Dan biarlah pasir yang menyatakan setiap jejak mimpi mu. Karena suatu saat nanti jejak mu akan terukir dan mungkin tidak akan pernah terhapus.”


....................................................................................................................................................
      
“Dan itu adalah kata-kata terakhir yang ayahku sampaikan kepadaku.” ujarku kepada Erickson.
       “Kata-kata yang indah, ikutilah kata ayahmu, dia tahu tentang hidup ini. Engkau adalah permatanya, sinarmu tidak akan pernah padam, kalau memang bukan kamu sendiri yang memadamkannya” ujar Erickson.
       “Yaa..sebaiknya begitu..” ujarku kembali dengan senyuman dan tetes air mata yang turun membasahi pipiku.
Dan akhirnya Erickson pun mengusap tangis di pipiku dan menyentuhnya dengan penuh kehangatan.
Dengan begitu aku dan ibuku segera mengurus pemakaman ayahku....
Untuk terakhir kali nya kami melihat ayah, dan saat ini ayah pun sudah tidak ada lagi. Ayah sangat berkesan untuk hidupku, dia sudah meninggalkan banyak sekali kenangan yang terindah dalam hidupku. Kenangan yang terindah bersama dengan Ayah, Adik, dan Ibuku.

SATU MINGGU KEMUDIAN
.........................................................................................................................
Akhirnya aku dan Ibuku memutuskan, untuk pulang ke luar kota, dan meninggalkan tempat ini. Aku dan Ibuku pun serta bantuan dari Adikku, kami mempersiapkan semuanya. Kami merapihkan semua barang-barang, dan kami masukkan ke dalam mobil.
Tidak lama kemudian Erickson datang kerumahku....
       “Mau pergi kemana? Apakah kamu akan pulang?” tanya Erickson.
       “Maafkanku. Aku belum sempat bertemu dengan mu.” ucapku.
       “Aku akan ikut dengan mu, aku akan tinggal bersamamu.” ujar Erickson.
       “Yaa.. Ibu yang menyuruh Erickson untuk menemanimu di sana. Lagi pula Erickson juga akan sekolah di East High Internastional School, sama seperti kamu.” ujar Ibuku.
       “Benarkah?? Aa!!!” jawabku.
Akupun segera loncat dan Erickson pun langsung memelukku, dan berbisik, aku janji, bahwa kita akan bersama selamanya, dan aku tidak akan meninggalkan dirimu. Aku mencintaimu.
Akhirnya sang Ibu, Adiknya, Immanuela, dan Erickson segera bergegas untuk pulang ke Michigan. Mereka akan melanjutkan hidup baru dan lebih indah pastinya disana.
....................................................................................................................................................

Dan sekarang Erickson dan Immanuela hidup bersama-sama, mereka sekolah bersama. Hingga suatu saat mereka lulus dan mendapat nilai yang terbaik. Erickson dan Immanuela pun, saling melengkapi.....
Kemudian pekerjaan Ibunya pun semakin lancar, hebat, dan sukses. Adiknya pun sekarang menjadi siswa terpintar di sekolahnya. Sedangkan Erickson dan Immanuela, mendapat pekerjaan baru di New York, dan mereka mendapat kedudukan yang cukup tinggi.
Ingatlah.... kehidupan itu harus dijalani dengan penuh rasa syukur dan semangat. Apabila kita hanya meratapi kesedihan yang terjadi, dan tidak pernah memandang kedepan, itu hanyalah membuang-buang waktu kita.
Serahkan semuanya kepada Tuhan, karena hanya Dialah Tuhan yang mampu menyelesaikan perkaramu, Dia yang mampu memberikan mu kehidupan yang Baru, Berkat yang melimpah, dan memberikanmu orang-orang yang dapat menyayangimu dan mencintaimu tulus......
THE END