Forever In Love
Created by : Gratia Immanuela Corputty
Cinta
adalah anugerah...ketika cinta datang menghampirimu,dia akan datang layaknya
kabut yang menyelimuti malam mu.
Cerah nya matahari pagi mampu membuat lekuk senyuman
di bibir ku. Pantai yang mengalir begitu deras, menghamparkan suara indah yang
terdengar melewati telingaku. Ku beranjak dari tempat tidur, menyambut suasana
pagi yang indah. Pagi itu ku berjalan membuka pintu rumah, dan berlari menuju
derasnya ombak yang mengalir ke arah timur. Ku sambut dengan rasa yang bahagia,
ku hempaskan kaki ke pasir..percikkan ombak yang membasahi kaki, membuat ku
merasa senang, setiap sentuhan air, hembusan angin yang menyentuh tubuhku, seperti
menghapus rasa jenuh di jiwa.
Ku pijakkan kembali kakiku, berjalan sepanjang bibir
pantai, meninggalkan jejak kaki yang membekas di ribuan pasir, hembusan angin yang membuat setiap helaian rambut ku
melayang ke belakang.....
“Hmm... ini kah hidup? Rasanya seperti tiada akhir.
Tapi aku tahu hidup di dunia ini hanyalah sementara, pijakkan kaki ini sebentar
akan tersapu oleh derasnya ombak yang datang, terselimuti smua kenangan yang
pernah ada.” ujar ku.
Ku berjalan kembali memandang pemandangan yang sungguh
indah dan mengharukan, terbuka kedua mata ku melihat smua keajaiban dunia, menikmati
setiap detiknya dengan penuh rasa syukur, hingga aku kembali kerumah ku, dan
beristirahat di depan teras rumah ku.
“Sungguh lelah perjalanan ini, tapi sungguh
berterimakasih kepada alam yang membawa ku kepada dimensi yang indah. Rasa
penat dan jenuh ku akan tugas-tugas yang slalu menghantui terhilang begitu
saja, setelah melihat pemandangan yang indah ini.” ujar ku kembali.
Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang menghampiri, ketika
aku ingin masuk ke dalam rumah, dan dia pun menyapa dan memperkenalkan dirinya.
“Hai,nama ku Erickson, aku adalah orang yang menginap
di Vila sebrang.” ujarnya.
“Aku adalah Immanuela. Apakah, aku mengenalimu?” tanyaku.
“Tidak, kita belum saling kenal, hmm..bagaimana kalau malam ini kita jalan ke cafe yang ada di ujung sana?” ajaknya.
“Tidak, kita belum saling kenal, hmm..bagaimana kalau malam ini kita jalan ke cafe yang ada di ujung sana?” ajaknya.
“Baiklah..kalau begitu nanti malam jam tujuh. Kalau
gitu aku masuk dulu.” jawabku.
Akhirnya Immanuela pun menerima ajakan dari Erickson
teman barunya itu. Dia pun segera masuk ke dalam rumahnya, dan meninggalkan
laki-laki itu. Immanuel pun masih bingung dengan kedatangan laki-laki itu di
rumahnya. Karena dia juga sedang menikmati liburan jadi tidak ada salahnya
untuk berkenalan, sekaligus bisa mencari teman. Lagi pula Immanuel juga tinggal
sendirian dirumahnya itu, dan membutuhkan seorang teman.
MALAM
HARINYA
HARI
– 1
Setelah
mandi aku pun berganti pakaian. Aku ganti dengan dress panjang berwarna putih
berhiaskan pita di sisi kirinya, dengan lengan pendek bernuansa klasik. Gelang
yang ku pakai di lengan kanan, dan cincin perak yang ku pasang di salah satu
jemari, make-up dan semua yang ku gunakan, telah melengkapi persiapan malamku.
Tok...
Tok... Tok...
Suara
ketukan pintu yang mengetuk pintu rumahku, segera bergegas mengambil tas, dan
membuka pintu rumah.
“Hai, kau sudah datang.” ucapku sambil
tersenyum.
“Yaa! Jadi..apakah kau sudah siap?”
tanyanya.
“Tentu, aku siap.” jawabku dengan gugup.
“Baiklah kalau begitu, mari kita pergi.”
jawabnya.
“Oke...” jawabku.
Kamipun
berjalan menuju cafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Sambil berbincang
satu sama lain, dan saling bercerita tentang pantai ini. Tidak terasa sepanjang
jalan berbincang, kami pun sudah sampai ditempat.
“Inilah cafenya..kalau begitu ayo kita masuk.”
ajaknya sambil memegang tanganku.
“Oke..” jawabku.
Dia
pun mengantarkanku ke meja makan, dan mempersilahkan ku duduk terlebih dahulu.
“Silahkan duduk..” ujarnya.
“Terimakasih.” ucapku sambil tersenyum.
“Apa yang akan kamu pesan?” tanyanya.
“Aku akan memesan, steak dan orange
juice, bagaimana dengan kamu?” tanyaku.
“Kalau begitu, aku akan memesan makanan
yang sama dengan kamu.” jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
“Baiklah kalau begitu. Hmm...Jadi
sebenarnya apa tujuan kamu mengajakku ke tempat ini? Mungkin ada yang ingin
kamu bicarakan?” tanyaku.
“Tidak ada apa-apa,hanya ingin sekedar
berkenalan dan....mengenal mu lebih dalam” jawabnya.
“Ouhh... hanya itu? Oke kalau memang itu
maksudmu. Hmm.. sedang apa disini? Hanya mengisi liburan? Atau ada acara?”
tanyaku.
“Hanya mengisi liburan saja, bagaimana
dengan mu?” tanyanya.
“Sama denganmu, hanya menikmati liburan
selagi bisa.” jawabku sambil tersenyum.
Sepanjang
kami berbicara tidak terasa bahwa makanan yang kami pesan sudah datang,kami pun
memberhentikan perbincangan kami. Setelah selesai makan Erickson pun menawarkan
Immanuela untuk pulang bersamanya,dengan maksud Erickson ingin mengantarkan
Immanuela sampai dirumahnya.
“Bisakah kita pulang sekarang?” ujarku.
“Bisa. Kalau begitu aku akan membayar ini
semua, dan langsung mengantarkan, mu pulang.” ujarnya sambil membersihkan sisa
makanan di bibirnya menggunakan tisu.
Dia
pun telah selesai membayar makanan,dan menghampiriku kembali untuk mengantarkan
ku pulang.
“Baiklah, saatnya kita pulang. Hehehe..”
ajaknya sambil tertawa.
“Terimakasih telah mengajakku keluar dan
mentraktir ku makanan. Hehe..” ucapku sambil tersenyum dan sedikit tertawa.
“Ya, sama-sama, dengan senang hati. Hmm..
bagaimana kalau besok aku menjemputmu dirumah dan aku akan mengajakmu ke tempat
yang sangat bagus. Jaraknya tidak akan jauh dari pantai ini. Hanya beberapa
meter dari rumahmu. Bagaimana?” tanyanya.
“Hm.. Menurut ku itu ide yang sangat
bagus, aku akan mempertimbangkannya.” jawabku.
Tidak
terasa selama perjalanan pulang dan berbicara dengannya,ternyata aku sudah
sampai dirumahku.
“Sudah sampai... Terimakasih untuk hari
ini Immanuel.” ujarnya.
“Ya sama-sama..seharusnya aku yang bilang
terimakasih kepadamu.” jawabku
“Hahaha.. yasudah, kalau begitu aku harus
pulang, sampai bertemu besok jam delapan pagi, tepat di depan rumahmu.” ujarnya.
“Baiklah.. jam delapan, oke.” jawabku
sambil tersenyum
Immanuel
pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Erickson pun juga begitu
melangkahkan kakinya untuk pergi,pulang kerumahnya sendiri.
PAGI HARI
HARI - 2
Paginya..aku
membuka mata ku,mengangkat tangan ku keatas,dan menikmati setiap hembusan angin
yang masuk ke kamarku melalui celah jendela yang terbuka sedikit. Kupandang
dari kamarku deburan ombak yang keras,kicauan burung yang banyak,daun-daun dan
pohon-pohon yang bergoyang ke kanan dan kiri,semakin menambah lengkap indahnya
pagiku.
Tok...
Tok... Tok...
Ketukan
pintu yang kedua kalinya berbunyi. Lalu aku terbingungkan dan melihat jam di
dinding yang menyatakan sudah jam delapan pagi,aku pun belum bersiap-siap,karena
terlintas di pikiranku,bahwa tadi malam aku ada janji dengan Erickson untuk
pergi ke suatu tempat pagi ini. Aku pun langsung turun dari tempat tidur ku dan
segera berganti pakaian,dan keluar.
“Hai!”
jawabku dengan sedikit terkejut.
“Hai.
Selamat pagi. Apakah kamu siap berangkat?” tanyanya.
“Ya..
aku siap.” jawabku sambil tersenyum.
“Jadi,
kemana kita akan pergi sekarang?” tanyaku.
“Pastinya
ketempat yang asik dan indah, yang gak akan pernah kamu lupain.” jawabnya
dengan gembira.
“Sungguh?
Baiklah ... kau membuatku semakin penasaran. Haha...” jawabku dengan gembira.
Sekitar
lima belas menit dari pantai kami berjalan, sampailah kami di tempat tujuan, tempat
itu bernama “Penangkaran Penyu”. Ini adalah tempat yang sangat indah. Kita bisa
menemukan banyak anak-anak penyu yang sekarang sudah langka keberadaannya dan
hampir punah.
“Bagaimana? Kau suka tempatnya?”
tanyanya.
“Yaa.. aku suka.. sangat suka. Bahkan ini
kedua kalinya aku kesini.” jawabku,sambil tersenyum.
“Kedua kali? Kapan kamu pernah kesini
sebelumnya?” tanyanya.
“Waktu aku masih kecil mungkin sekitar
aku berumur lima tahun, waktu ayahku mengajakku kesini dan menginap dirumah
itu, yang sekarang aku tempati.” jawabku.
“Ayah? Tinggal disini? Lalu dimana ayahmu
sekarang?” tanyanya.
“Sekarang ayah ku ada di luar kota,
bekerja bersama dengan ibuku, dan menjaga adikku yang masih kecil disana.” jawabku.
Karena
perbincangan ini sedikit mengulang masa lalu ku. Aku pun jadi merindukan ayah
ku. Aku pun sedikit sedih,karena sekarang aku menikmati liburan tanpa mereka.
“Apakah, kamu baik-baik saja? Aku tidak
bermaksud membuatmu sedih.” ujarnya.
“Tidak apa-apa, haha.. ini hanya membuat
ku merindukan ayahku.” jawabku sambil tersenyum.
“Kalau begitu mari kita lihat penyu-penyu
yang ada disini, ayooo...” ajaknya sambil memegang tangan ku.
Kami
pun melihat banyak sekali penyu yang ada,anak-anak penyu yang di lahirkan dari
induknya,bagaimana cara mereka berjalan,dan semuanya ada disitu. Kami saling
tertawa bersama, menyentuh penyu itu bersamaan, membersihkan dan memberi makan
penyu itu juga bersama-sama.
Dan
sampai pada akhirnya.....kami lupa akan waktu, dan beristirahat sejenak di
depan pantai. Kami duduk di atas pasir putih yang indah, di temani dengan
kerang laut yang banyak yang mengitari kami berdua. Kami saling terlihat
kelelahan, tapi kami pun juga senang, rasa senang yang ditandakan dari senyuman
kami berdua.
“Lagi-lagi... terimakasih untuk hari ini,
aku sangat senang. Ternyata kamu adalah orang yang baik. Dan terimakasih untuk
penyu-penyu itu juga. Hahaha..” ucapku sambil tersenyum dan sedikit tertawa.
“Yaa,.. sama-sama aku juga sangat senang
bisa berkenalan denganmu. Apakah besok kita akan bertemu lagi?” tanyanya sambil
menatapku.
“Aku tidak tahu,besok ayahku menyusulku
kesini.” jawabku sambil menatapnya balik.
“Baiklah kalau begitu...kita lihat
besok.” ujarnya sambil berdiri. “Aku harus segera kembali, dah...” ucapnya
sambil tersenyum kepadaku.
“Yaa.. dahh..” ucapku kembali.
Aku
pun masih duduk dan menikmati pantai di suasana sore yang indah. Hembusan yang
begitu kencang,sampai menghapus keringat ku,hingga aku terlelah dan kembali ke
rumahku,berjalan,sambil menikmati sunset di sore hari.
KEESOKAN HARINYA
HARI - 3
Keesokan
harinya,ayah ku datang kerumahku. Untuk menemaniku liburan. Aku pun segera
beranjak dari tempat tidurku,dan merapihkan rumah ku. Ku bersihkan diri
ku,untuk bersiap-siap bertemu dengan ayahku.
Terdengan
suara mobil datang dari arah luar rumahku. Dengan beberapa barang di
belakangnya. Ku lihat sebuah piano besar berwarna hitam. Aku pun segera berlari
menuju ayahku,dan segera memeluknya.
“Ayah...!!!! aku sangat senang ayah ada
disini. Apa kabar ayah?” tanyaku dengan gembira.
“Ayah, baik-baik saja. Bagaimana
denganmu? Dan liburanmu, tentunya? Haha..” tanya ayahku sambil memelukku dengan
perasaan yang sangat gembira, seraya merindukankku.
“Aku baik-baik saja disini, biar ku bantu
ayah menurunkan barang-barang. Jadi.. bagaimana dengan Ibu dan Adik dirumah?
Apakah mereka baik-baik saja?” tanyaku.
“Yaa.. tentu! Mereka sangat baik-baik
saja. Jadi bagaimana dengan rumah ini? Ayah sangat merindukan kenangan dirumah
ini. Sungguh menyenangkan bukan?” tanya ayahku dengan gembira.
“Ya!
Sangat menyenangkan. Apakah ayah masih ingat, waktu ayah membawa ku ke tempat
penangkaran penyu?” tanyaku sambil membantu ayahku, menurunkan barang ke dalam
rumah.
“Ya, tentu ayah masih ingat dengan momen
itu. Memangnya ada apa?” tanya ayahku.
“Kemarin aku pergi kesitu, bersama dengan
teman baruku.” jawabku.
“Apakah dia laki-laki?” tanya ayahku, dengan
wajah yang tidak terlihat baik dan suram.
“Yaa. Dia laki-laki,dia bernama Erickson.
Dia adalah laki-laki yang tinggal di Vila sebrang, dia mengajakku ke tempat
penangkaran penyu yang waktu itu ayah sempat membawa ku kesana. Tenang ayah..
dia laki-laki yang baik ko.” jawabku sambil tersenyum.
“Baiklah..ayah tidak pernah meminta mu
untuk tidak berteman dengan siapapun di lingkungan baru seperti ini. Ayah hanya
ingin kamu lebih berhati-hati.” ujar ayahku.
“Baiklah ayah...” jawabku sambil membawa
barang-barang.
Setelah
kami selesai membawa barang-barang dari mobil, aku pun membantu ayahku
merapihkannya. Terutama piano yang besar itu, itu sangat berarti untukku.
Karena piano itu membawa ku ke dunia masa kecilku. Setiap alunan lagu yang di
mainkan oleh ayahku, selalu membuatku tersenyum. Ku pandang terus piano itu.
“Mainkanlah piano itu..” ujar ayahku.
“Aku ingin melihat ayah bermain untukku.
Aku ingin merasakan rasanya kembali ke masa lalu dengan melihat ayah bermain.”
ujarku sambil tetap memandang piano itu.
“Ayah harap kamu yang akan memainkannya
nanti untuk ayah.” katanya sambil merangkul dan memelukku.
“Ayah? Apakah ayah baik-baik saja?”
tanyaku.
“Yaa.. ayah baik-baik saja.” jawabnya
sambil meninggalkanku.
SORE HARINYA
HARI - 4
Sore
harinya ayahku membuatkan masakan kesukaan ku. Dia adalah orang yang tahu betul
seleraku. Aku tersenyum sangat bahagia, terukir di wajahku. Ku peluk ayahku dan
berkata terimakasih ayah telah datang dan membuat ku lebih merasa senang dan
nyaman.
Kami
pun makan bersama, menikmati pantai yang begitu indah. Bagiku, liburan bersama
ayahku sangatlah indah, dengan momen-momen seperti ini yang membuatku lebih
merasa bersyukur. Melihat ayahku tersenyum dan bahagia bersama dengan anaknya
adalah keinginan semua orang.
Tidak
akan ada yang tahu kapan semua ini akan berakhir, yang aku inginkan hanyalah
tetap berada dekat dengan ayahku, melewati semua detik kehidupan bersama
dengannya.
“Ayah ... aku ingin terus seperti ini.
Bersama dengan ayah di sepanjang hidupku. Bersama dengan Ibu dan Adik juga.” ujarku
dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ayah juga ingin seperti itu.” Dia datang
kearahku, dan merangkulku serta mencium keningku dengan hangat.
Kuteteskan
air mataku, rasa sedih yang terlintas di benakku menyampaikan semua harapan dan
isi hatiku dengan setiap tetesan yang jatuh tepat membasahi pipiku. Dan
disitulah kami berhenti makan dan melanjutkan aktivitas kami di dalam rumah.
Waktu
kami masuk kedalam rumah, ayah ku masuk kedalam kamar, dan mengambil suatu
barang, akupun beranjak ke teras belakang rumahku, dan duduk tepat di depan
piano. Ku sentuh setiap not di atasnya. Rasanya satu kali sentuhan yang
kulakukan membawaku kembali ke masa laluku. Lalu tiba-tiba ayahku datang
membawa buku panjang, yang bertuliskan “My Beloved Memory”.
“Ini adalah buku kenangan kita. Ini semua
berisikan foto-foto waktu kamu dan adik kamu masih kecil, waktu ayah dan ibu
masih muda, waktu kamu menjelang dewasa, dan semuanya ada disini.” ujar ayahku.
“Ayah.. ini bagus sekali. Boleh aku
melihatnya?” ujarku.
“Tentu!!” jawab ayahku sambil bergembira.
Aku
pun beranjak dari tempat duduk,dan memandangi setiap foto yang ada di buku itu.
Terkadang aku bisa meneteskan air mataku,dan terkadang aku mampu tersenyum.
Melihat semua kenangan itu,dan sekali lagi membawaku ke dimensi yang berbeda.
Tidak
lama kemudian ada seseorang yang datang kerumahku,dan mengetuk pintu rumah. Aku
pun segera bergegas dan membuka pintu itu.
“Hi.. apa kabar?” ujar Erickson.
“Kamu? Hai! Apa kabar? Mau masuk?” tanya
ku.
“Tidak usah, pasti masih ada ayah mu di
dalam. Aku hanya inginn...” ujarnya, kata-katanya terpotong oleh ayahku yang
datang menghampiri kami berdua.
“Siapa ini? Laki-laki yang kamu ceritakan
itu?” tanya ayahku.
“Yaa.. dia adalah Erickson yang membawaku
ke tempat penagkaran lalu.” jawabku.
“Jadi kemana kalian akan pergi hari ini?”
tanya ayahku.
“Tidak yah, kami tidak akan pergi
kemana-mana, Erickson kesini hanya ingin berbicara suatu hal kepadaku, bisakah
ayah tinggalkan kami berdua disini?” tanyaku.
“Hm.... baiklah kalau begitu. Tidak lama
yah...” ujar ayahku.
“Terimakasih ayah...” jawabku.
....................................................................................................................................................
“Jadi, kenapa kamu kesini?” tanyaku.
“Aku ingin mengajak mu ke pantai besok, bagaimana?
Jam tiga sore di pantai? Oke?” ujarnya.
“Baiklah jam tiga sore di pantai. Haha..”
ujarku sambil tersenyum bahagia.
Dia
pun meninggalkan rumahku. Aku pun sangat senang dia datang kerumah ku dan mengajakku
bermain kembali. Sesampainya aku kembali kerumah, ayahku mengalunkan sebuah
lagu dari piano itu, aku bermain bersama dengan ayahku.
Kami
melakukan aktivitas bersama-sama, setiap alunan, dan aktivitas yang kami
lakukan pada malam itu sungguh menyenangkan dan berarti untukku. Sampai pada
akhirnya kami pun merasa kelelahan dan ingin rasanya beristirahat.
“Ayah akan tidur duluan, bagaimana denganmu?”
tanya ayahku
“Sebentar lagi yah.” jawab ku sambil
tersenyum.
Aku
pun duduk di sofa memandang semua kejadian ini. Aku sangat senang kalau ayahku
bisa bersama ku satu malam penuh ini.
Setelah sekian lama aku duduk di sofa, aku pun juga merasa kelelahan dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan masuk ke kamar tidur ku. Setelah beberapa lama aku tertidur lelap, aku terbangunkan dengan suara batuk yang sangat keras dari luar. Ku beranjak dari tempat tidurku. Dan aku keluar melihat lampu kamar mandi yang menyala, dan ku lihat ayahku berdiri disitu sambil membungkukan badannya. Wajahku yang masih setengah ngantuk itu, masih terpasang di mukaku.
Setelah sekian lama aku duduk di sofa, aku pun juga merasa kelelahan dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan masuk ke kamar tidur ku. Setelah beberapa lama aku tertidur lelap, aku terbangunkan dengan suara batuk yang sangat keras dari luar. Ku beranjak dari tempat tidurku. Dan aku keluar melihat lampu kamar mandi yang menyala, dan ku lihat ayahku berdiri disitu sambil membungkukan badannya. Wajahku yang masih setengah ngantuk itu, masih terpasang di mukaku.
“Ayah? Apakah kamu baik-baik saja?”
tanyaku.
“Yaa! Ayah baik-baik saja. Kenapa kamu
belum tidur?” tanya ayahku sambil mengusap bibirnya menggunakan tisu.
“Aku terbangun, mendengar batuk ayah yang
cukup keras, apakah ayah sakit? Ayah sedang tidak baik-baik saja.” ujarku
dengan muka yang khawatir.
“Tidak..ayah tidak apa-apa..ini hanya
batuk biasa saja. Sebaiknya kamu kembali tidur.” ujar ayahku.
“Ayah....” ujarku.
“Sudah tidur sana, ayoo ini sudah larut
malam.” Ayahku pun mengantarku sampai di depan kamarku.
“Selamat tidur ayah....”ucapku.
“Selamat tidur sayang..” jawab ayahku.
KEESOKAN PAGINYA
HARI - 5
Keesokan
paginya pun aku terbangun dengan badan yang sangat sehat. Ku buka pintu kamar
ku, dan di sambut dengan makanan pagi yang sangat enak. Ayahku membuatnya dengan
sangat enak dan harum. Kami pun makan bersama-sama menikmati suasana pagi yang
indah sambil diiringi musik instrumental karya Kenny G. Aku sangat senang dan
tetap merasa bahagia. Tawa di hati dan senyumku. Menjelaskan semuanya.
Sampai
menjelang sore hari, aku sedang membaca novel di teras rumahku yang mengarah ke
arah laut, dengan hembusan angin dan suara ombak yang terlintas di telingaku, menambah
hangat suasana sore ku.
Ketika
aku sedang membaca novel, aku mendengar suara batuk dari arah dalam rumahku.
Dan aku pun berfikir bahwa itu adalah suara batuk ayahku.
“Ayah? Apakah ayah baik-baik saja?”
tanyaku. “Aku mulai mengkhawatirkan ayah.” ujarku.
“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Ini
hanyalah batuk biasa saja.” ujar ayahku.
“Kemarin ayah juga bicara seperti itu.
Sekarang ayah juga bicara seperti itu. Ini bukanlah batuk yang biasa ayah.
Apakah perlu ku antarkan ke dokter?” tanyaku.
“Tidak perlu, ayah baik-baik saja. Tidak
apa-apa sayang.” ujar ayahku sambil mencium kening ku.
Beberapa
saat kemudian Erickson datang menjemputku untuk bermain kepantai. Aku pun
langsung bertemu dengannya dan membukakan pintu untuknya.
“Jadi kalian akan main?” tanya ayahku sambil
tersenyum.
“Ya om, kami akan main bersama-sama di
pantai. Tidak akan lama-lama,saya janji.” Ujar Erickson.
“Baiklah kalau begitu, bawa dia, dan buat
dia merasa bahagia.” ujar ayahku.
“Ayah... apaansih..” ujarku dengan
senyuman.
“Baik kalau begitu kami permisi dulu om.”
ujar Erickson.
“Dahh ayah....” ujarku.
Kami
pun pergi ke pantai dan bermain bersama. Erickson mengajakku ke suatu tempat
yang cukup aneh. Dia mengajakku ke suatu tempat yang hanya di pagari oleh pagar
kawat yang ,mungkin panjang dan lebarnya berukuran sama yaitu delapan puluh
centi meter. Aku pun hanya merasa bingung tetapi merasa penasaran. Ku mengitari
pagar itu.
“Apa ini? Ini seperti sebuah sarang atau
semacamnya.” ujarku.
“Semalam aku melihat banyak sekali telur
penyu disini, akhirnya aku pagari agar tidak ada orang yang mengambilnya.
Anak-anak penyu ini akan menetas besok lusa tepatnya di pagi hari” jawabnya.
“Apa? Serius? Astaga..” jawabku sambil
terkejut dan merasa senang.
“Maka dari itu aku membawa mu kemari
untuk melihat bagaimana penyu ini keluar nantinya” ujarnya sambil tersenyum
kepadaku.
“Hmm... terimakasih untuk ini semua” ujar
ku sambil tersenyum kepadanya.
Selepas
kami dari tempat tersebut, Erickson mengajakku untuk bermain di pantai kami
saling menciprat air satu sama lain, sehingga baju kami basah semuanya, dia
menggendong ku, kami juga berlari dan kejar-kejaran sampai akhirnya aku lelah
dan tiduran di atas pasir yang indah, lagi-lagi hembusan angin datang menghapus
semua rasa letih ku yang berhujung kebahagiaan ini.
“Ini untukmu.” ujar Erickson sambil
memberikan minuman kepadaku.
“Terimakasih.” Jawabku.
Immanuela
pun meminum-minuman yang di berikannya kepadanya. Tanpa Immanuela sadari
Ericson melihat nya dengan tajam. Dia seperti ingin menyatakan sesuatu kepada
Immanuela. Lalu Immanuela pun menoleh kearahnya.
“Ada apa? Mengapa kamu melihat ku seperti itu?
Apakah ada yang salah dengan ku atau kamu ingin bicarakan suatu hal dengan ku?”
tanyaku.
“Terkadang hanya sikap yang mempu
buktikan semua kepadamu. Hmm.. aku harus mengantarkan mu pulang. Ayo..” ujarnya
sambil memegang tanganku.
Aku
pun masih bingung dengan semua kata-kata yang dia maksud. Mengapa dia berkata
seperti itu. Aku hanya mampu menatapnya sambil berjalan dengan memegang
tangannya.
“Sudah sampai...” ujarnya, padahal aku
masih, melihat ke arahnya. “Immanuel? Hey.. sudah sampai dirumahmu..” ujarnya
kembali sambil tertawa.
“Apa? Sudah sampai? baiklah” jawab ku
dengan gugup.
“Besok kita akan bertemu lagi.” ujarnya..
“Baiklah.. terimakasih untuk hari ini Erickson,
aku sangat senang, dan tempat persembunyian penyu itu.. itu sangat indah..” ucapku.
“Ya sama-sama.” jawabnya.
Ketika
Immanuela ingin masuk ke dalam rumahnya. Erickson memanggil namanya.
“Immanuela..” ujarnya.
“Yaa??” jawabku.
“Sejujurnya ada hal yang ingin ku ucapkan
kepadamu..” ujar Erickson.
Ketika
Erickson ingin menyampaikan perasaan yang sesungguhnya kepada Immanuela, tiba-tiba
terdengar suara batuk dari dalam rumahnya. Immanuela pun langsung masuk kedalam
rumahnya dan segera menghampiri ayahnya. Immanuela meninggalkan Erickson di
luar. Dan ternyata saat itu bukanlah momen yang tepat untuk menyatakan
perasaannya kepada Immanuela. Erickson pun meninggalkan Immanuela, dan kembali
ke Vilanya.
“Ayah? Ayah kenapa? Ini sudah ketiga
kalinya aku mendengar suara ayah seperti ini? Ayah tidak baik-baik saja.” ujarku
khawatir.
“Ayah tidak apa-apa ko. Sebaiknya kamu
bersihkan dirimu, badan mu sangat kotor.” ujar ayahku.
“Ayah.. ayah ini ada apa? Jangan
sembunyikan apapun dari aku. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang ayah
alami saat ini. Termasuk batuk ini.” ujarku.
Ayahku
hanya diam dan tersenyum,sesekali mengarah ke arah pantai. Lagi-lagi ayahku
tidak mau memberitahukannya kepadaku. Dan terkadang aku terbingungkan oleh
sikap ayahku. Mengapa dia mencoba untuk menutupi ini semua kepada ku. Aku mulai
khawatir dan ingin rasanya mencari tahu yang terjadi dengan ayahku.
....................................................................................................................................................
Keesokan
paginya, aku pun secara diam-diam masuk kekamar ayahku mengambil semua
obat-obat yang ayah ku konsumsi, kemudian mengecek semua obat-obat tersebut di
internet, kandungan dan fungsi apa saja yang ada di dalam obat itu. Dan aku pun
merasa terkejut, ternyata itu adalah obat untuk penyembuh kanker paru-paru.
Aku
pun segera menutup internet ku, dan mengembalikan semua obat-obat yang ayah ku
konsumsi kembali ke tempatnya. Dengan rasa sedih dan terkejut, aku pun segera
keluar dari rumah dan menuju teras rumahku.
Aku
duduk di depan piano hitam itu, dan mengalunkan sebuah musik, hanya itu yang
dapat kulakukan ketika aku merasa sedih sampai seperti ini. Ketika aku sedang
bermain piano, tiba-tiba ayahku datang.
“Alunan yang sangat indah, sudah lama ayah
tidak melihatmu bermain.” ujar ayahku.
“Ayah... yaa, aku sangat senang bisa
mengalunkan musik indah seperti ayah dulu. Waktu ayah mengajari ku.” jawabku.
“Ayah akan sangat senang jika kamu bisa
memainkannya untuk ayah di suatu saat nanti, entah itu, atau apapun momen itu, ayah
akan senang jika kamu memainkannya di momen yang spesial untuk ayah.” ujar
ayahku.
Aku
teringat kalau besok adalah ulang tahun ayahku. Aku pun juga teringat kalau
besok adalah hari dimana penyu-penyu itu akan menetas. Aku pun sangat senang, sekaligus
sedih karena aku harus memandangi wajah ayahku yang pucat. Tanpa ayahku sadari
aku sudah mengetahui penyakitnya terlebih dahulu. Entah apa yang harus ku
perbuat.
Pada
sore itu, Erickson datang kerumahku. Dan menjemputku untuk melihat tempat
persembunyian penyu-penyu itu. Aku pun berpamitan dengan ayahku untuk pergi
bersama dengannya. Dia memegang tanganku erat dan berlari melewati pasir putih
yang indah, sayup angin ombak yang kencang membuat ku seperti melawan arus.
Sesampainya
kita di tempat persembunyian itu, kami menggali sedikit telur-telurnya. Dan
Erickson mengecek apakah telur itu siap menetas atau tidak. Dan ternyata
telur-telur itu akan siap menetas. Kami berdua pun sangat senang. Dan kami
menutup telur-telur itu dengan pasir kembali.
Seperti
biasa Erickson selalu mengajakku ke pantai untuk bermain, tapi kali ini.....ada
sesuatu yang berbeda darinya. Ketika kami bergandengan tangan, berjalan berdua
menyusuri pantai, terlihat dari jauh sebuah meja putih dan dua kursi, serta
satu lilin yang menyala di tengahnya.
Aku
pun menatap ke arah Erickson seperti tercengang, dan berkata-kata dalam hati (Apakah
semua ini untukku? Apakah ini benar-benar untukku?). Tapi Erickson hanya bisa
melihat ku, menatap ke arah kedua mataku, dan tersenyum, seakan memang semua
ini dia yang buat untukku.
“Apakah ini benar-benar untukku?” ujar ku
sambil terkejut dan tersenyum
“Yaa... ini untuk mu.” jawabnya sambil
tersenyum bahagia ke arahku. “Silahkan duduk.” ujarnya sambil membuka tempat
duduk untukku, sama seperti waktu dia membukakan tempat duduk untukku waktu
pertama kali bertemu.
“Wahh!! Aku sangat senang.. ini sungguh
indah, meja makan di atas pasir, pemandangan pantai, dengan hembusan angin yang
sejuk, deburan ombak pantai yang indah, kicauan burung yang merdu, semuanya..
semuanya!” ujarku dengan bahagia.
“Apakah kau bahagia?” tanyanya dengan
senyuman yang menawan dari bibirnya.
“Apakah kau bercanda? Ini lebih dari
bahagia untukku.” jawabku dengan senyum di wajahku.
“Aku ingin memberikan sesuatu untukmu.” ujarnya.
Erickson
pun mengambil kotak musik dari bawah meja, dan mengambil alat musik itu.
Ternyata Erickson adalah laki-laki yang sangat mahir dalam bermain sexophone.
Dia pun mengalunkan nada yang indah dia memainkan salah satu musik instrumental
yang berjudul My Heart Will Go On.
Dia
menyanyikannya di depan Immanuela. Immanuela hanya bisa tersenyum bahagia, terharu,
melihat sikap Erickson yang seperti ini. Immanuela menikmati setiap alunan musik
yang dimainkan oleh Ericson.
Tanpa
mereka berdua sadari, ternyata Ayah Immanuela, melihat aksi Erickson yang
seperti itu. Ayahnya sangat bangga kepada Erickson, ayahnya terharu melihat
anaknya yaitu Immanuela mendapati seorang teman yang mampu membuatnnya bahagia.
Ayahnya pun berharap kalau Erickson dapat mencintai anaknya.
Hanya
tersisa harapan-harapan indah yang akan membuat ayahnya bertahan. Dia hanya
ingin melihat senyuman di wajah anak perempuannya itu, sebelum dia meninggalkan
kehidupannya.
Setelah itu di pantai...
Setelah Erickson berhasil memainkan alat musik untuk Immanuela. Erickson pun mulai menyatakan perasaannya kepada Immanuela.
Setelah Erickson berhasil memainkan alat musik untuk Immanuela. Erickson pun mulai menyatakan perasaannya kepada Immanuela.
“Immanuela?” ujar Erickson.
“Yaa Erickson?” jawabku.
“Aku ingin menyampaikan sesuatu
kepadamu.” ujar Erickson.
“Yaa? Silahkan.. dengan senang hati.” jawabku
dengan senyuman sekaligus perasaan ku yang tegang.
“Sebenarnya, sejak awal kita bertemu aku
sudah menaruh perasaan denganmu, rasa suka yang ada di hati ini. Begitu banyak
cara yang ingin ku nyatakan kepadamu untuk menyampaikan rasa suka ku. Tapi
terkadang cara itu selalu terhalang. Tapi saat ini...sekarang.... Aku mampu
mengutarakan ini kepadamu. Jadi.. Immanuela.. maukah kamu menjadi pasangan
hidupku?” ujar Erickson dengan wajah tersenyum.
“Hmm.. entah apa yang harus kukatakan
kepadamu. Aku juga memiliki perasaan yang sama dengan mu. Rasa suka yang muncul
sejak kamu datang kerumahku, mengajakku ke tempat-tempat yang indah, tempat-tempat
yang selalu membuat ku terkejut. Jadi... Erickson... aku mencintaimu dengan
sepenuh hatiku. Dan aku... aku bersedia menjadi pasangan hidup kamu.” jawabku
dengan senyuman indah.
“Apakah kamu serius? Serius???? Aaaa !!!”
ujarnya dengan tawa yang bahagia.
“Yaaa aku serius.. hahahaha..” jawabku
dengan bahagia.
Dia
pun akhirnya loncat, dan memelukku dengan hangat, dia memelukku hingga mengangkatku
berputar sampai mengenai deburan ombak yang datang menghampiri kami berdua. Dia
mencium keningku dengan sangat lembut, dan terus memeluk ku hingga matahari
terbenam.
Aku
sangat bahagia dengan ini semua. Semua yang sudah dia lakukan kepadaku semua
sungguh berarti, sampai aku bisa menjadi kekasihnya. Dia pun mengantarkan aku
pulang kerumah, dia menggandeng tanganku, dengan erat dan penuh kebahagiaan.
“Terimakasih untuk hari ini,,,, terimakasih
telah mengantarkan aku pulang.” Ujar ku sambil memegang tangannya dan dengan
senyuman.
“Ya..sama-sama,aku juga sangat bahagia
bisa menjadi milikmu, dan terimakasih juga untuk semuanya.” ujarnya kepadaku
dengan muka senyum bahagia.
“Baiklah kalau begitu aku harus masuk ke
dalam, kasian ayahku sudah menungguku lama...” ujarku.
“Baiklah.. Selamat malam, i will miss
you..” ujarnya dengan senyuman.
“I will miss you too...” jawabku dengan
senyuman.
....................................................................................................................................................
Akupun
masuk ke dalam rumah dengan penuh bahagia dan gembira. Tidak berapa lama
kemudian ayahku datang menghampiri ku, dan tersenyum melihatku. Dia merangkul
ku dan memberi ku kecupan hangat di keningku. Dia mengucapkan terimakasih, dan
meminta maaf kepadaku.
Entah
apa maksud ayahku, aku hanya menganggapnya positiv dan terus tersenyum di depan
ayahku.
Aku
tidak ingin di hari ulang tahun ayahku besok, hanya ada tetesan air mata yang
keluar. Aku akan buat suatu yang hebat dan spesial untuk ayahku. Didalam hatiku
aku hanya berkata, kalau besok aku akan menyanyikan satu lagu untuk ayahku.
Dimalam
itu kami pun saling berdekatan, bercerita tentang kejadian sore tadi, dan
setelah itu makan malam bersama. Malam pun semakin larut. Akhirnya aku berkata
kepada ayahku untuk istirahat terlebih dahulu.
Dimalam
itu setelah aku tertidur lelap. Tanpa aku sadari bahwa ayahku, mengalami
batuk-batuk lagi. Bahkan batuk-batuk itu semakin parah, hingga mengeluarkan
darah. Ayahku hingga sesak napas menahan sakit dan nyeri di dadanya, penyakitnya
semakin parah, entah apa yang akan terjadi esok hari. Hanya mukjizat dan waktu
yang mampu menjawabnya.
KEESOKAN PAGINYA
HARI KE - 6
Pagi-pagi
sekali aku terbangun. Aku beranjak dari tempat tidurku, dan mengambil kue dari
kulkas, ku pasangkan ke dua lilin yang menyatakan umur ayahku di atas kue itu, kue
yang di balut coklat yang lezat, dan taburan wafer yang renyah, yang membuat
suasana lebih indah lagi.
Aku
pun membawa kue itu, dan ku letakkan di atas piano. Kemudian, aku melihat
ayahku mulai membuka pintu kamarnya, dan aku pun langsung memainkan piano, musik
instrumental kesukaan ayahku.
Kemudian
ayahku mulai mendekati diriku, dan dia mulai tersenyum.
“Terimakasih anakku... ini sungguh
indah.. musik yang indah, kue, lilin, dan semuanya.. terimakasih, atas semuanya.”
ujar ayahku dengan muka yang gembira, ayah datang ke arah ku, memeluk ku dengan
tetesan air mata di pipinya. Lalu...dia mencium kening dan pipiku dengan
hangat, hingga aku pun meneteskan air mataku, dan ayahku mengusap air mataku
dan berkata...
“Jangan ada air mata di hari ini. Ini
adalah hari ayah, ayah hanya ingin melihat senyuman dari wajahmu nak...Ingatlah
ketika, cahaya matahari muncul dari arah timur, dan kamu melihat cahaya terang
dari sana, lihatlah kenyamanan yang terpancar, rasakan hangatannya, dan
mulailah berjalan ke ombak dan sentuhlah kakimu kesana, rasakan kedatangan air
itu, itu bagaikan cinta yang tak pernah habis, sama seperti hembusan angin yang
slalu mengusap kejenuhan mu. Gapailah apa yang kamu inginkan, pertahankanlah
jika itu harus kamu lakukan.” ujar ayah ku, sambil menyentuh pipiku, kemudian
ayahku kembali memelukku.
Setelah
Immanuela dan Ayahnya memotong kue bersama-sama, bernyanyi bersama-sama. Mereka
sudah merasakan kebahagiaan sepenuhnya. Tidak lama kemudian terdengar suara
ketukan pintu. Immanuela pun segera bergegas untuk membukanya, awalnya dia
pikir itu adalah Erickson yang akan menjemputnya pagi-pagi untuk melihat telur
penyu yang akan menetas pagi ini.
Setelah
di buka pintu rumahnya. Ternyata yang datang adalah Ibu dan Adik nya. Mereka
datang untuk merayakan hari ulang tahun bersama-sama. Ayahnya pun terkejut
dengan kedatangan mereka berdua.
Akhirnya
mereka berduapun berkumpul bersama, saling memainkan piano. Dan ayah, pun
akhirnya memainkan piano untukku. Aku begitu bahagia melihat ayah dapat bermain
piano di hari ulang tahunnya.
Kemudian
sekitar jam setengah enam pagi, terdengar suara ketukan pintu kembali. Adikku
segera bergegas membukanya. Dan ternyata yang datang adalah Erickson. Aku, Ibu,
dan Ayahku, langsung ke depan pintu dan bertemu Erickson.
“Erickson.” Ujarku.
“Siapa ini nak?” tanya Ibuku.
“Dia adalah Erickson. Laki-laki yang
selama ini menemaniku, berlibur disini, bersama dengan ayah juga. Dia adalah
kekasihku sekarang Bu.” jawabku.
“Baiklah kalau begitu.” ujar ibuku sambil
tersenyum bahagia.
“Ada apa pagi-pagi begini datang?” tanya
ayahku.
“Saya ingin mengajak Immanuela, untuk
melihat bayi-bayi penyu yang akan menetas pagi ini.” Jawabnya.
“Penyu? Penyu!” ujar adikku.
”Yaa.. bayi-bayi penyu yang cukup
banyak.” ujar Erickson sambil mengelus kepala adikku dan dengan wajah yang
tersenyum.
“Baiklah...!!” Adikku begitu gembira, dan
dia pun segera berlari ke belakang untuk mengambil sesuatu.
“Baiklah, aku akan pergi bersamamu.
Tidakkah lebih terasa menyenangkan kalau Ayah dan Ibu ikut bersama kami. Lagi
pula ini adalah hal yang paling menyenangkan yang akan kita lakukan.” ujarku.
“Baiklah.. Ayah dan Ibu akan ikut bersama
dengan kalian.” ujar Ayah dan Ibuku dengan wajah tersenyum.
....................................................................................................................................................
Sebelum
kita pergi, dan beranjak keluar rumah, Adikku pun datang sambil membawa senter.
Dan dia pun berlari begitu kencang ke arah pantai.
“Ayoo... cepat!!” ujar adikku.
“Mengapa adikmu sangat bersemangat?
Haha.. Tapi aku sangat senang melakukan hal ini bersamamu.” ujar Erickson
sambil memegang tangan Immanuela.
“Aku juga...” jawab Immanuela dengan
genggaman erat di tangannya, dan lekuk senyuman manis dari wajahnya.
Ibu
dan Ayahnya pun juga seperti mereka berdua bergandengan tangan dan bahkan
sangat erat, Ibunya menurunkan kepalanya ke pundak ayahnya, mereka berjalan layaknya
dua insan yang sangat mesra, kecupan hangat yang di berikan ayahnya kepada
ibunya, menandakan cinta kasih yang erat di antara mereka berdua.
Deruan
ombak yang kencang, hembusan angin yang sejuk, melengkapi perjalanan kami
menyusuri sepanjang pantai untuk pergi ke tempat persembunyian penyu itu.
Sesampainya
disana kami melihat banyak anak penyu yang keluar dari pasir, tempatnya dulu
dierami, di bawah tumpukkan pasir yang membuatnya hangat hingga mereka boleh
menetas dengan sempurna.
“Lihat penyu-penyu itu!!” ujar adiknya.
“Kita harus menyinari mereka dengan
senter!” ujar Erickson.
“Untuk apa?” tanya Immanuela.
“Untuk menerangi jalan mereka menuju
pantai. Sehingga mereka tidak tersesat” ujar Erickson kembali sambil memandangi
wajahku dengan penuh senyuman.
“Baiklah..” ujar Immanuela dengan balas
senyumnya yang indah terhadap Erickson.
Semenetara
Erickson, Immanuela, dan Adiknya memerhatikan penyu. Ayah dan Ibu Immanuela
menikmati pemandangan pantai yang indah.
************
Tiba-tiba
sang ayah jatuh tersungkur dengan mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya, ayahnya
memegang dadanya seraya menahan rasa sakitnya. Aku pun langsung menoleh ke
belakang dan menjatuhkan senter ku, dan berlari menuju ayahku.
“Ayahh!
Ayah!!” ujarku sambil meneteskan air mata.
“Ayah bangun..... bangun yahh..” ujar ibu
sambil menangis.
“Ayah! Ayahhh!!” teriak adikku, sambil
memeluk ayahku.
“Akan ku bantu ayah mu kedalam.” jawab
Erickson dengan wajahnya yang penuh khawatir sambil mengangkat ayahnya kedalam.
...................................................................................................................................................
Erickson
pun segera menelpon dokter yang terdekat.
Tidak berapa lama kemudian dokter pun datang, dan menyatakan bahwa sang ayah, tidak bisa di selamatkan. Penyakit yang di deritanya sudah sangat parah.
Tidak berapa lama kemudian dokter pun datang, dan menyatakan bahwa sang ayah, tidak bisa di selamatkan. Penyakit yang di deritanya sudah sangat parah.
Aku pun tersungkur di depan ayahku, tetesan
air mata jatuh dan terus membanjiri pipiku. Rasa yang tidak adil, seperti
takdir berpihak kepada ku. Tapi aku tahu satu hal yang selalu ayahku katakan
kepadaku : ”Tuhan itu selalu benar, apapun rencana yang Dia buat untuk umatnya,
akan selalu Indah pada waktuNya. Syukuri itu dan jangan jadikan itu suatu
penyesalan. Karena penyesalan hanya membawa mu kepada masa lalu yang hanya
mampu membuat mu terjatuh.
Bangkitlah
dari keterpurukan itu, dan bawalah bintang bersama denganmu, dan biarlah terang
matahari menyinari mu. Lihatlah langit di malam hari. Segelap apapun langit
itu, suatu saat nanti dia akan menyinari mu dengan segala kehangatan yang
mereka punya. Jangan jadikan air hujan sebagai alasan kabut hitammu, jadikanlah
pelangi sebagai alasanmu untuk hidup.
Karena
hidup itu seperti pelangi, yang mempunyai banyak warna, mempunyai banyak
kejadian dalam hidup. Ikutilah hidup ini seperti deras ombak di pantai, yang
akan selalu mengalir kemanapun, dan biarlah hidup dan mimpimu, mengalir terus
dan jadikan itu berarti. Dan jagalah keberanian dan tekat mu seperti pasir yang
tiada pernah habis untuk terhitung. Dan biarlah pasir yang menyatakan setiap
jejak mimpi mu. Karena suatu saat nanti jejak mu akan terukir dan mungkin tidak
akan pernah terhapus.”
....................................................................................................................................................
“Dan
itu adalah kata-kata terakhir yang ayahku sampaikan kepadaku.” ujarku kepada
Erickson.
“Kata-kata yang indah, ikutilah kata
ayahmu, dia tahu tentang hidup ini. Engkau adalah permatanya, sinarmu tidak
akan pernah padam, kalau memang bukan kamu sendiri yang memadamkannya” ujar
Erickson.
“Yaa..sebaiknya begitu..” ujarku kembali
dengan senyuman dan tetes air mata yang turun membasahi pipiku.
Dan
akhirnya Erickson pun mengusap tangis di pipiku dan menyentuhnya dengan penuh
kehangatan.
Dengan
begitu aku dan ibuku segera mengurus pemakaman ayahku....
Untuk terakhir kali nya kami melihat ayah, dan saat ini ayah pun sudah tidak ada lagi. Ayah sangat berkesan untuk hidupku, dia sudah meninggalkan banyak sekali kenangan yang terindah dalam hidupku. Kenangan yang terindah bersama dengan Ayah, Adik, dan Ibuku.
Untuk terakhir kali nya kami melihat ayah, dan saat ini ayah pun sudah tidak ada lagi. Ayah sangat berkesan untuk hidupku, dia sudah meninggalkan banyak sekali kenangan yang terindah dalam hidupku. Kenangan yang terindah bersama dengan Ayah, Adik, dan Ibuku.
SATU MINGGU KEMUDIAN
.........................................................................................................................
.........................................................................................................................
Akhirnya
aku dan Ibuku memutuskan, untuk pulang ke luar kota, dan meninggalkan tempat
ini. Aku dan Ibuku pun serta bantuan dari Adikku, kami mempersiapkan semuanya.
Kami merapihkan semua barang-barang, dan kami masukkan ke dalam mobil.
Tidak
lama kemudian Erickson datang kerumahku....
“Mau pergi kemana? Apakah kamu akan
pulang?” tanya Erickson.
“Maafkanku. Aku belum sempat bertemu
dengan mu.” ucapku.
“Aku akan ikut dengan mu, aku akan
tinggal bersamamu.” ujar Erickson.
“Yaa.. Ibu yang menyuruh Erickson untuk
menemanimu di sana. Lagi pula Erickson juga akan sekolah di East High
Internastional School, sama seperti kamu.” ujar Ibuku.
“Benarkah?? Aa!!!” jawabku.
Akupun
segera loncat dan Erickson pun langsung memelukku, dan berbisik, aku janji, bahwa
kita akan bersama selamanya, dan aku tidak akan meninggalkan dirimu. Aku
mencintaimu.
Akhirnya
sang Ibu, Adiknya, Immanuela, dan Erickson segera bergegas untuk pulang ke
Michigan. Mereka akan melanjutkan hidup baru dan lebih indah pastinya disana.
....................................................................................................................................................
Dan
sekarang Erickson dan Immanuela hidup bersama-sama, mereka sekolah bersama. Hingga
suatu saat mereka lulus dan mendapat nilai yang terbaik. Erickson dan Immanuela
pun, saling melengkapi.....
Kemudian
pekerjaan Ibunya pun semakin lancar, hebat, dan sukses. Adiknya pun sekarang
menjadi siswa terpintar di sekolahnya. Sedangkan Erickson dan Immanuela, mendapat
pekerjaan baru di New York, dan mereka mendapat kedudukan yang cukup tinggi.
Ingatlah....
kehidupan itu harus dijalani dengan penuh rasa syukur dan semangat. Apabila
kita hanya meratapi kesedihan yang terjadi, dan tidak pernah memandang kedepan,
itu hanyalah membuang-buang waktu kita.
Serahkan
semuanya kepada Tuhan, karena hanya Dialah Tuhan yang mampu menyelesaikan
perkaramu, Dia yang mampu memberikan mu kehidupan yang Baru, Berkat yang
melimpah, dan memberikanmu orang-orang yang dapat menyayangimu dan mencintaimu
tulus......
THE
END